KENDALA-KENDALA IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

Budi Handoyo

 ABSTRAK: Dewasa ini, bangsa Indonesia sedang menghadapi permasalahan fondamental dalam  kehidupan berbangsa dan bernegara. Permasalahan itu berupa  perilaku masyarakat belum  sejalan dengan karakter bangsa yang dijiwai oleh falsafah Pancasila: religius, humanis, nasionalis, demokratis, keadilan dan  kesejah-teraan rakyat. Jika permasalahan ini dibiarkan dapat menimbulkan ancaman pada eksistensi bangsa. Karena itu diperlukan pendidikan karakter  yang berfungsi untuk: (1)  mengembangkan potensi dasar berhati, berpikiran dan  berperilaku baik, (2) memperbaiki perilaku yang kurang baik dan menguatkan perilaku yg sudah baik, (3) menyaring budaya yg kurang sesuai dengan  nilai-nilai luhur Pancasila. Ada 18 nilai karakter yang perlu ditumbuhkembangkan di lingkungan sekolah. Untuk pengembangan pendidikan karakter di sekolah, kedelapan nilai karakter tersebut perlu diseleksi sesuai dengan visi sekolah menjadi nilai utama dan nilai pendukung, dan diimplementasikan dengan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kendala yang dihadapi dalam implementasi berupa: sekolah belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan visinya, pemahaman guru tentang konsep pendidikan karakter yang masih belum menyeluruh, guru belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya, guru belum memiliki kompetensi yang memadai untuk mengintegrasikan nilai-niai karakter pada mata pelajaran yang diampunya, dan guru belum dapat menjadi teladan atas nilai-nilai karakter yang dipilihnya.

 Kata Kunci: Nilai-nilai karakter, pendidikan karakter, sekolah

 Anak-anak dan remaja dewasa ini sedang hidup di awal abad 21 yang memiliki corak berbeda sama sekali dengan kehidupan abad-abad sebelumnya. Abad ini ditandai oleh perubahan yang berjalan sangat cepat, kompleks, sulit diprediksi dan kompetitif. Dari sisi pemikiran, pada abad ini terjadi pergeseran paradigma ”knowledge is power menuju idea is power”. Oleh karena itu, abad ini membutuhkan kecakapan individu (soft competence) yang dapat digunakan anak-anak dan remaja merespon tuntutan perubahan yang cepat itu dengan segala kompleksitas persoalannya.

Sekolah sebagai wahana pembelajaran tak diragukan berperan besar dalam pengembangan karakter siswa. Sekolah telah mengantar anak-anak dan remaja dalam menyelesaikan tugas perkembangannya hingga memasuki masa dewasa dengan baik. Di lembaga ini otak, hati, dan badan anak di ditumbuhkembangkan agar lebih cerdas, peka dan sehat. Dengan kecerdasan otak, kepekaan hati, dan kesehatan fisik diaharapkan dapat mejadi modal kemandirian di masa yang akan dating.

Dalam preses pendidikan di sekolah, siswa tidak selalu mendapatkan lingkungan sesuai dengan kondisi dan tingkat perkembangannya. Di sekolah seringkali muatan kurikulumnya terlalu berat dan pembelajaran yang ”konvensional”. Lingkungan sekolah seperti ini dapat menimbulkan kesulitan bagi siswa untuk beradaptasi dengan beban kurikulumnya dan pendekatan pembelajarannya sehingga tidak tumbuh optimal, bahkan seringkali prestasinya rendah. Sebagai contoh kurikulum yang dewasa ini diterapkan di ”SMAN-L”. Sekolah ini menggunakan kurikulum nasional yang dikembangkan dengan muatan internasional. Hasil ujian semester pada kelas XI IPA 2 menunjukkan ketuntasan yang relatif rendah. Ketuntatasan Matematika sebesar…%. Fisika …%, Kimia…%, Biologi …%, B Inggris …%, dan B Indonesia …%.

Fenomena ketuntasan belajar yang rendah tersebut dapat disebabkan oleh beban kurikulum yang terlalu berat. Sistem pendidikan sekolah seperti itu dapat berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter. Sebab, dalam waktu yang panjang sebagian ”terposisikan inferior” rasa percaya dirinya. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan tersebut akan membentuk pribadi yang kurang percaya diri, dan menimbulkan stress berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif, seperti senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah, dan menurunnya mutu lulusan. Karena itu kritik-kritik  yang ditujukan pada pendidikan persekolahan, bahwa ”… pendidikan formal kita hanya melahirkan ahli matematika, fisika, dan kimia, tetapi lulusannya tidak berkarakter (Ya’kub, 2008).  Pendidikan di Indonesia sudah saatnya untuk memihak kepada kompetensi, baik kompetensi keahlian maupun kompetensi karakter; bukan hanya kompetensi matematika, kimia, fisika, dan sejenisnya (Rosyid, 2010).

Kondisi-kondisi sebagaimana digambarkan memerlukan pemecahan yang fundamental dan komprehensif. Pemecahan mendasar terkait dengan pendidikan moral dan motivasi diri, dan pemecahan komprehensif mencakup seluruh lapisan masyarakat. Gerakan pendidikan karakter berbangsa merupakan solusi yang penting dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Secara konseptual pendidikan karakter telah disusun dan dimulai untuk diterapkan di sekolah. Ada delapan belas nilai karakter yang perlu diimplementasi di sekolah, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu,  semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,  bersahabat/komunikatif, cinta damai,  gemar membaca,  peduli lingkungan,  peduli sosial, tanggung jawab (Puskur. 2009). Tulisan ini mencoba menelaah kendala-kendala implementasi pendidikan karakter di sekolah setelah berlangsung hampir dua tahun berlangsung.

Hakikat Karakter dan Pendidikan Karakter

Dalam kamus Bahasa Indonesia (2008) disebutkan, bahwa karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak/budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Kata karakter berasal dari Yunani, charassein, yang berarti to engrave atau mengukir di atas batu permata atau permukaan besi yang keras. Karakter kemudian diartikan”…an individuals pattern of behavior…his moral constitution …”( Bohlin, 2001). 

Dalam Kebijakan Pembangunan Karakter Bangsa  2010-2025 (2010) disebutkan, bahwa karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas, baik yang tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa & bernegara sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olah raga seseorang atau sekelompok orang. Karakter bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang khas, baik yang tercermin dalam kesa-daran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila, norma UUD 1945, keberagaman dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika dan komitmen NKRI.

Pembangunan karakter bangsa Indonesia merupakan perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Pembangunan karakter ini dilandasi oleh permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti: disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa (Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025).

Berdasarkan pemaparan tersebut, pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik  atau loving good  (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action).  Pendidikan karakter menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan.

Tujuan,   Fungsi  dan Media Pendidikan Karakter

Dalam buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025 di paparkan tujuan, fungsi dan media pendidikan karakter. Pendidikan karakter bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Fungsi pendidikan karakter adalah (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) memperkuat  dan membangun perilaku bangsa yang multikultur;  (3) meningkatkan peradaban bangsa yang kompe-titif dalam pergaulan dunia.

Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.

Nilai-Nilai Pembentuk Karakter

Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan pendidikan masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada satuan pendidikan, yang untuk selanjutnya diperkuat dengan 18 nilai karakter hasil kajian empirik Pusat Kurikulum yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu,  Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi,  Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai,  Gemar Membaca,  Peduli Lingkungan,  Peduli Sosial, Tanggung Jawab (Puskur. 2009).

Nilai-nilai karakter tersebut juga dikembangkan praktisi pendidikan karakter dan lembaga-lembaga pendidikan sebagai berikut.

Tabel 1: Nilai-nilali Karakter

IHE

DIMERMEN

YJDB

SITUS GOOGLE

Cinta Tuhan & segenap ciptaan-Nya Respect 5 Sikap Dasar:Jujur, terbuka, berani mengambil resiko, tang-gung jawab, komitmen Resposibility
Kemandirian & tanggung jawab Resposibility Respect
dermawan, suka menolong & gotong royong Honesty Fairness
Percaya, kreatif & pekerja keras Empathy 3 Syarat: niat, tidak mendahului kehendak Tuhan, bersyukur.­ Courage
Kepemimpinan & keadilan Fairness Honesty
Baik & rendah hati Initiative citizenship
toleransi, kedamaian & kesatuan Courage Self-dicipline
(Megawangi, 2004) Perseverance 3 Syarat lain: doa/ ibadah, mewujudkan perubahan, tauladan(YJDB, 2008) Caring
Optimism Preseverance
Integraty (Dimermen, 2009)

Tinjauan karakter secara psikologis: merupakan perwujudan dari potensi Intelligency Quotient (IQ),  Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Adverse Quotient (AQ) yang dimiliki seseorang. Menurut pandangan agama: orang yang berkarakter pada dirinya terkandung potensi-potensi, yaitu: Fathonah, Sidiq, Amanah, dan Tabliq. Secara lebih komprehensif penjelasan bidang psikologi dan agama dalam menjelaskan keterkaitan nilai-nilai karakter sebagai berikut.

Pendidikan Karakter, Prestasi Akademik, dan Keberhasilan Hidup

Penelitian dan telaah dampak pendidikan karakter pada prestasi akademik telah banyak dilakukan. Salah satu diantaranya dilakukan  Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis. Hasil kajiannya menunjukkan, bahwa ada peningkatan motivasi untuk meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang menerapkan pendidikan karakter secara komprehensif menunjukan adanya penurunan secara drastis perilaku negatif yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Melalui pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini merupakan bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depannya. Dengan emosi yang cerdas, seseorang memiliki peluang besar berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan secara akademis. Hasil kompilasi penelitian Zins (2001) juga menunjukkan, bahwa ada pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dari sederetan faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah, ternyata kegagalan itu bukan terletak pada kecerdasan otak, melainkan pada faktor karakter, seperti rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi yang bermasalah.

Hasil tersebut juga sejalan pendapat telaah Goleman, bahwa  keberhasilan hidup seseorang 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak/remaja yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Sebaliknya, anak-anak/remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi baik akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja, seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Dasar pendidikan karakter adalah keluarga. Namun, pendidikan karakter di sekolah juga sangat diperlukan. Sebab, secara faktual kebanyakan orang tua lebih mengutamakan kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Sebagaimana dinyatakan Goleman, bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Namun, ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Permasalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan karakter menjadi masalah yang mengemuka.

Pendidikan Karakter di Sekolah

Lickona (1992), ahli pendidik karakter dari Cortland University dikenal sebagai Bapak Pendikar Amerika yang menerapkan idenya pada tingkat pendidikan dasar & menengah. Pendidikan karakter mencakup: (1) moral knowing (pengetahuan tentang moral); (2) moral feeling (perasaan tentang moral), dan (3) moral action (perbuatan moral atau act morally). Sacara detail cakupan pendidikan karakter sebagai berikut.

Tabel 2 Aspek Pendidikan Karakter

Moral Knowing

Moral Felling

Moral Action

Moral awareness Conscience (nurani) . Competence
Knowing moral values Self- esteem (percaya diri Will (keinginan )
Perspective taking Empathy (merasakan penderitaan orang lain) Habit (kebiasaan )
Moral reasoning Loving the good (mencintai kebenaran)
Decision making Self-control (mampu mengontrol diri)
Self-knowledge

Pendidikan karakter (PK) merupakan pendidikan budi pekerti plus. PK melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Penerapan PK secara sistematis dan berkelanjutan menjadikan  seorang anak cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini akan menjadi bekal penting dalam mempersiapkan anak/remaja  menyongsong masa depan. Sebab, Seseorang yang cerdas emosi akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan akademis di sekolah.

Tujuan PK tersebut seiring dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter—diharapkan lahir generasi bangsa dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama (Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003). 

Untuk mewujudkan pendidikan karakter yang efektif di sekolah, terdapat 11 prinsip (Lickona dkk, 2007), yaitu:

(1)  kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya. (2) definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku. (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter. (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian. (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral. (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil. (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa. (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa. (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter. (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter. (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.

Sebagai kerangka kerja, dalam PK penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti, seperti keimanan, kejujuran, rasa hormat, kepedulian, dan nilai-nilai kinerja pendukungnya, seperti komitmen, kesungguhan, ketekunan dan kegigihan–sebagai basis karakter yang baik.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan di sekolah adalah:

(1) Sekolah berkomitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai dimaksud.

(2) mendefinisikan karakter dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari.

(3) mencontohkan nilai-nilai karakter, mengkaji dan mendiskusikannya, meng-gunakannya sebagai dasar dalam hubungan antar warga sekolah.

(4) mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat. Hal terpenting, semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti.

Siswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model dan mempraktekkan pemecahan masalah yang meli-batkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengem-bangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Dalam konteks seperti itu diper-lukan pembelajaran yang dialogis antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan semua warga sekolah. Untuk pembelajaran di kelas dapat diterapkan pembelajaran kooperatif dengan memberikan penguatan pada kegiatan kelompok.

Untuk mewujudkan PK secara komprehensif di sekolah dapat dilakukan pendekatan yang sistemik dengan melibatkan semua komponen sekolah. Kompenen tersebut mencakup:

(1) kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), seperti upacara dan prosedur sekolah; keteladanan guru; hubungan siswa dengan guru, staf sekolah lainnya, dan sesama mereka sendiri; proses pembelajaran; keanekaragaman siswa; penilaian pembelajaran; pengelolaan lingkungan sekolah; kebijakan disiplin.

(2) kurikulum akademik (academic curriculum) seperti mata pelajaran inti, dan program-program ekstrakurikuler (extracurricular programs) seperti olahraga, klub, proyek pelayanan, dan kegiatan-kegiatan setelah jam sekolah.

Di samping itu, sekolah dan keluarga perlu meningkatkan efektivitas kemitraan dengan merekrut bantuan dari komunitas yang lebih luas (bisnis, orga-nisasi pemuda, lembaga keagamaan, pemerintah, dan media) dalam mempromosikan pembangunan karakter. Kemitraan sekolah-orang tua ini dalam banyak hal sering kali tidak dapat berjalan dengan baik, karena terlalu banyak menekankan pada penggalangan dukungan finansial, bukan pada dukungan program.

 Strategi Pembelajaran, dan Penilaian Pendidikan Karakter

Implementasi strategi pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan melalui model pendidikan holistik dan pendidikan integratif. Model pendidikan holistik (holistic education) mencakup 3 (tiga) ranah, yaitu  metode knowing the good, fee-ling the good, dan acting the good. Knowing the good berupa transfer  pengetahuan (kognitif) yang baik. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling and loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi penggerak yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan sehingga tumbuh kesadaran mau melakukan perilaku kebajikan, karena kecintaannya pada perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good yang berupa tindakan-tindakan nyata untuk dibiasakan dalam aktivitas sehari-hari.

Model pendidikan terintegrasi dilakukan dengan mengintegasikan nilai-nilai karakter pada kompetensi-kompetensi mata pelajaran. Implementasinya melalui kegiatan pembelajaran/KBM, pengembangan budaya sekolah, dan ekstra kurikuler. Misalnya:

(1)   Kegiatan Pembelajaran/Belajar Mengajar (KBM). Untuk menumbuhkan nilai karakter rasa ingin tahu melalui kegiatan observasi, meningkatkan keterampilan berkomunikasi yang efektif dengan kegiatan diskusi dan presentasi, mengem-bangkan berfikir kritis dengan kegiatan penelitian sederhana, dsb.

(2)   Budaya Sekolah. Untuk menumbuhkan karakter keimanan melalaui doa awal dan akhir pelajaran, dan/atau sholat berjamaah, meningkatkan sikap dan perilaku rasa hormat/respek dengan membiasakan berjabatan tangan dan mengucap salam secara santun,  untuk karakter peduli lingkungan dengan membiasakan menjaga kebersihan kelas dan membuang sampah di tempatnya, dsb

(3)   Kegaiatan Ekstra Kurikuler: Pramuka, Olah raga, Karya Ilmiah, Seni, PMR, dsb. Untuk mengembangkan kecakapan kerjasama dan jiwa sportif melalui bermain olah raga, mengembangkan rasa percaya diri melalui PENSI, peduli kemanusiaan dengan PMR donor darah, peduli sosial dengan bahti sosial-bantuan bencana, dsb.

PK merupakan bagian dari pembelajaran secara keseluruhan. Nilai-nilai dari PK merupakan bagian dari kompetensi yang ingin dicapai dalam kegiatan pembe-lajaran. Karena itu, penilaiannya tirintegrasi dengan dengan penilaian pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang dimaksud. Hal penting yang perlu disadari adalah kepastian untuk menilai aspek karakter yang telah diintegrasikan tersebut. Agar tidak memberatkan tugas, sebaiknya dipilih karakter yang esensial saja yang dinilai. Misalnya menilai kemampuan berkomunikasi dengan penilaian kinerja, menilai nilai keuletan dengan penilaian sikap, dsb.

Hasil penilaian pendidikan karakter, selanjutnya diformulasikan untuk di masukkan ke dalam buku rapor siswa. Misalnya nilai ini untuk mengsisi hasil belajar aspek ahklak dan kepribadian. Bentuk nilai sebaiknya tidak berupa angka, tetapi  kualifikasi kata:  Baik, Sedang, dan Kurang. Jika ingin lebih baik baik lagi dengan deskripsi kalimat pernyataan. Misalnya keimanan, rasa hormat, cinta tanah air baik, tetapi kepeduliaan lingkungan kurang.

Kendala-Kendala Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah

Pendidikan karakter merupakan program baru yang diprioritaskan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagai program baru masih menghadapi banyak kendala. Kendala-kendala tersebut adalah:

(1)     nilai-nilai karakter yang dikembangkan di sekolah belum terjabarkan dalam indikator yang representatif. Indikator yang tidak representatif dan baik tersebut menyebabkan kesulitan dalam mengungukur ketercapaiannya.

(2)     sekolah belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan visinya. Jumlah nilai-nilai karakter demikian banyak, baik yang diberikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun dari sumber-sumber lain. Umumnya sekolah menghadapi kesulitan memilih nilai karakter mana yang ssuai dengan visi sekolahnya. Hal itu berdampak pada gerakan membangun karakter di sekolah menjadi kurang terarah dan fokus, sehingga tidak jelas pula monitoring dn penilaiannya.

(3)     pemahaman guru tentang konsep pendidikan karakter yang masih belum menyeluruh. Jumlah guru di Indonesia yang lebih 2 juta merupakan sasaran program yang sangat besar. Program pendidikan karakter belum dapat disosialisaikan pada semua guru dengan baik sehingga mereka belum memahaminya.

(4)     guru belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Selain nilai-nilai karakter umum, dalam mata pelajaran juga terdapat nilai-nilai karakter yang perlu dikembangkan guru pegampu. Nilai-nilai karakter mata pelajaran tersebut belum dapat digali dengan baik untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran.

(5)     Guru belum memiliki kompetensi yang memadai untuk mengintegrasikan nilai-niai karakter pada mata pelajaran yang diampunya. Program sudah dijalankan, sementara pelatihan masih sangat terbatas diikuti guru menyebabkan keterbatasan mereka dalam mengintegrasikan nilai karakter pada mata pelajaran yang diampunya.

(6)     guru belum dapat menjadi teladan atas nilai-nilai karakter yang dipilihnya. Permasalahan yang paling berat adalah peran guru untuk menjadi teladan dalam mewujudkan nilai-nilai karakter secara khusus sesuai dengan nilai karakter mata pelajaran dan nilai-nilai karakter umum di sekolah.

DAFTAR RUJUKAN

Bohlin, Karen E; De-borah Farmer; Kevin Ryan. 2001. Building Character in School

Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025

Bashory, Khoiruddin. Menata Ulang Pendidikan Karakter Bangsa, Senin, 15 Maret 2010.   //

Choate, L.H. (2007). Counseling Adolescent Girls for Body Image Resilience: Strategi for School Counselors. Profesional School Counseling. Alexandria: Feb 2007. Vol. 10, Iss. 3; pg. 317, 10 pgs. Diakses melalui http://ezproxy.match.edu/menu pada 9 Mei 2008

Fagan, R. (2006). Counseling and Treating Adolescents with Alcohol and Other Substance Use Problems and their Family. The Family Journal: Counseling therapy For Couples and Families. Vol.14. No.4.326-333. Sage Publication diakses melalui http://tfj.sagepub.com/cgi/reprint/14/4/326 pada 18 April 2008

Hurlock, E.B. (1991). Psikolgi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Penerbit Erlangga.

Joseph Zins, et.al, 2001. Emotional Intelligence and School Success.

Lickona. 1992. Educating for Character: How our school can teach respect & responsibility., New Yor Bantam Books.

Mongks, F. J. , Knoers, A. M. P. , & Haditono, S. R. (2000). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Puskur. 2009. Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah.

Rini, J.F. (2004). Mencemaskan Penampilan. Diakses dari e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.

Santrok, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Setiono, L.H. (2002). Beberapa Permasalahan Remaja. Diakses dari http://www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s