PENDIDIKAN GEOGRAFI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF LINTAS NEGARA (Sebuah Studi Pendahuluan: Tujuan, Struktur dan Ruang Lingkup)

Budi Handoyo

Geografi FIS Universitas Negeri Malang

budi.handoyo78@yahoo.com

ABSTRAK: Studi ini dilakukan terhadap pendidikan geografi di beberapa negara secara eksploratif dengan mengunduh sumber-sumber informasi di internet (open sources).  Pendidikan geografi di sejumlah negara dieksplorasi: Singapura, Jepang, Australia, Inggris,  dan Indonesia sebagai pusat perhatian-nya. Eksplorasi dilakukan pada tiga ranah, yaitu tujuan, struktur penempatan, dan ruang lingkup mata pelajaran geografi. Hasil studi menunjukkan: (1) tujuan mata pelajaran geografi mengandung aspek pokok yang hampir sama: geographical knowledge, skills, and attitudes and values—Indonesia lebih menekankan pada aspek geographical knowledge,  (2) penem-patan mata pelajaran geografi di sebagian besar negara terintegrasi dengan social study pada jenjang primery school dan secondary school,  Indonesia  menempatkan mata pelajaran ini hingga high school. (3) ruang lingkup mata pelajaran  geografi terdiri atas lima tema pokok dan delapan belas standar. Keduanya dijumpai dalam kurikulum nasional Indonesia.

Kata kunci: Pendidikan Geografi, Tujuan , Struktur, dan Ruang Lingkup.

Pasca geografi ditetapkan sebagai salah satu mata pelajaran dalam kurikulum  sekolah pada dasa warsa 70-an, upaya perbaikan pendidikan geografi terus dilakukan. Perbaikan isi secara fundamental dilakukan seiring dengan peru-bahan kurikulum 1984 menjadi kurikulum 1994, dan kurikulum Berbasis Kompe-tensi (KBK) sekitar tahun 2004. Perubahan itu dilakukan pada ranah tujuan, isi, struktur penempatan, ruang lingkup dan pengembangannya

Perubahan isi pada kuriklum  1994 dengan menambahkan sejumlah materi baru. Materi tersebut adalah Pengindraan jauh dan Sistem Informasi Geografi (SIG), serta sejumlah materi PKLH yang dilakukan secara terintegrasi. Perubahan tujuan dan isi secara fundamental terjadi pada KBK. Pada kurikulum tersebut tujuan dan isi mata pelajaran geografi semakin ”komprehensif” mencakup aspek pengetahun, sikap dan perilaku, nilai-nilai, keterampilan serta kecakapan berko-munikasi.

Pada era global ini, keberadaan pendidikan geografi dirasakan semakin penting untuk mendorong siswa tidak haya menjadi warga suatau negara,  tetapi juga menjadi warga dunia/global. Dalam konteks kehidupan global dengan kemajuan yang tinggi dalam bidang informasi dan komputer, mata pelajaran ini dirasakan semakin penting peranannya. Geografi tidak hanya menekankan aspek hafalan-hafalan tempat, ruang, penduduk dan interaksinya, seperti yang terjadi di sekolah selama ini, tetapi juga menyiapkan peserta didik yang cakap berpikir  dalam pemecahan masalah (skills), dan memiliki sikap dan nilai-nilai posistif (attitudes and values) terhadap aspek-aspek manusia dan lingkungannya untuk mendukung kehidupannya kini maupun akan datang.

Dalam konteks kehidupan global inilah, keberadaan pendidikan geografi di Indonesia ”bersinggungan” dengan pendidikan geografi di negara-negara lain. Apakah pendidikan geografi di Indonesia sesuai dengan pendidikan geografi di negara lain?. Tiga aspek pendidikan geografi yang dikaji dalam tulisan ini, yaitu tujuan, struktur penempatan, dan ruang lingkup mata pelajaran geografi dengan menempatkan Indonesia sebagai pusat perhatiannya.

METODE

Studi ini dilakukan dengan metode survey terhadap sumber-sumber (dokumen) pendidikan geografi di internet. Survey dilakukan pada bulan Maret hingga April 2012. Pada tahap pendahuluan ini, studi dilakukan pada enam negara yang diambil secara purposif. Keenam negara tersebut adalah Indonesia, Singa-pura, Jepang, Australia, Amerika, dan Inggris. Selain keenam negara tersebut juga dilakukan eksplorasi pada pendidikan Cambridge yang beroperasi lintas negara. Data dikumpulkan dengan mengunduh (download) sumber  terbuka (open sources) yang tersedia di internet. Analisis dilakukan dengan reduksi dan kompa-rasi secara relatif terhadap ranah tujuan, struktur, dan ruang lingkup mata pelajaran geografi antar negara.

HASIL STUDY

  1. 1.        Pendidikan Geografi

Pendidikan geografi memiliki cakupan yang luas dan berkembang dari waktu ke waktu. Karena itu, perlu ditelaah ruang lingkup pendidikan geografi, tujuan, komponen, dan dinamikanya. Pendidikan geografi adalah suatu disiplin ilmu yang dilandasi oleh ranah pendidikan dan geografi (Reinfried, tanpa tahun). Pendidikan geografi merupakan konsep yang kompleks yang dapat dipahami dalam kaitan dengan ilmu geografi, tujuan secara detail, penjelasan posisinya pada pendidian formal dan in formal, dan berkenaan dengan komponen esensialnya  (Gerber, tanpa tahun).

Tujuan pendidikan geografi adalah mengembangkan geographical knowledge, skills, dan attitudes and values (The International Charter on Georap-hical Education/ICGE dalam Gerber, 2001). Geographical knowledge berkenaan dengan lokasi dan tempat, sistem alam–interaksi ekosistem, sistem sosioekonomi, keragaman masyarakat dan sosial, struktur dan proses di suatu wilayah,  dan keterkaitan global. Skills berkenaan dengan proses berpikir yang memerlukan pemecahan masalah dan membuat keputusan spasial; penggunaan komunikasi verbal, kuantitatif, bentuk simbul data: grafik, teks, tabel, diagram, peta, dsb; keteram-pilan fisik-praktis—yang berkaitan dengan studi lapangan. Attitudes and values berkenaan dengan minat dan rasa ingin tahu terhadap fenomena alam dan manusia; menghargai bentang alam dimana penduduk tinggal;   empati pada perbedaan keondisi kehidupan masyarakat; hormat pada kebenaran dan kesamaan.

Menurut Asosiasi Geograf Inggris, bahwa tujuan pendidikan geografi adalah:  

(1) to develop in young people a knowledge and understanding of the place they live in, of other  people and places, and of how people and places inter-relate and interconnect; of the significance of location; of human and physical environments; of people-environment relationships; and of the causes and consequences of change, (2) to develop the skills needed to carry out geographical study, e.g. geographical enquiry, mapwork and fieldwork. (3) to stimulate an interest in, and encourage and appreciation of the world around us, and (4) to develop an informed concern for the world around us and an ability and willingness to take positive action, both locally and globally.”

Secara ringkas dapat dikatakan, bahwa tujuan pendidikan geografi adalah menyediakan orang yang berpengathuan geografi, yaitu  memahami sistem ling-kungan fisik dan manusia yang saling berkaitan dan masyarakat dan tempat tinggalnya  berinteraksi. Dengan demikian Pendidikan geografi  tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang dunia dan  pengembangan skills geografi dasar, tetapi juga berkomitmen untuk menumbuh-kembangkan kepribadian dan penguatan sikap  untuk partisipasi penuh dalam kehidupan yang dewasa dan masyarakat.  Hal itu juga mencakup pembahasan isu-isu etika, nilai, keadilan, dan moralitas (International Geographical Union Commission on Geographical  Education dalam Reinfried, tanpa tahun).  Masalah itu berkenaan dengan  kepentingan dunia dan perbedaan budayanya,  peduli terhadap lingkungan fisik dunia yang indah dan kondisi kehidupan yang berbeda, kualitas lingkungan dan alam, dan habitat manusia, evaluasi yang cerdas pada masalah kini,  dedikasi untuk berkontribusi pada pemecahan masalah, perasaan simpati pada masyarakat  dan cara-cara hidup yang berbeda  dan menghargai hak asasi manusia (Haurbrich, 2006).   

Pendidikan geografi memiliki tiga komponen yang saling terkait, yaitu subject matters, skills, dan perpective (Gerber, tanpa tahun). Ada enam elemen esensial subject matters, yaitu dunia dalam kaitan spasial, study tempat dan wilayah, pemahaman sistem fisik yang membentuk permukaan bumi, pemahmanan aktivi-tas manusia yang membentuk permukaan bumi,  pemahaman  bagaimana aktivitas mansuia memodifikasi  lingkungan alam sekitar, pemahaman  kegunaan geografi untuk pengetahuan yang berkaitan dengan masyarakat, tempat dan lingkungan. Skills geografi berkenaan penggunaan peralatan dan teknik untuk berpikir secara`geografis.  Perspektives merupakan komponen yang berkaitan dengan  interprettasi makna dari data yang terkumpul dalam penelitian, yaitu perspektif spasial dan kelingkungan.   

Pendidikan geografi memilih dan menyusun geographical knowledge, skills, dan attitudes and values yang memungkinkan siswa memahami proses manusia-lingkungan-masyarakat di dunia untuk mencapai masyarakat yang berpengatahuan geografi (geographical literate). Masyarakat yang berpenge-tahuan geografi dipengaruhi oleh  pemahamannya tentang tempat, keterkaitan antar tempat, dan tindakan keruangan  yang timbul oleh bermacam-macam pelaku/aktor. Pendidikan geografi juga mengembangkan dan mengevaluasi kurikulum, tujuan pembelajaran, metode pembelajaran dan proses pembelajaran.

Kecenderungan pendidikan di abad XXI ini ini berkenaan dengan  konsep geografi terpadu (integrative)  yang digunakan dalam proses pendidikan  dan ber-fikir kritis,  pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan,  informasi dan tek-nologi (ICT). Siswa perlu bertindak sebagai warga negara yang bertanggung jawab berkenaan dengan isu-isu kunci yang kompleks, yaitu lingkungan, sosial, budaya, ekonomi dan politik.  Pendidikan geografi merupakan suatu bidang  pendidikan yang mengajarkan siswa tinking skills (keterampilan berpikir) yang diperlukan untuk memahami  dan bertindak secara berkelanjutan di dunia. Tanpa geografi, anak-anak muda tidak siap untuk masa depan yang global.

Oleh karena itu, pada era dewasa ini konsep pendidikan geografi dipengaruhi oleh  empat parameter utama, yaitu nilai-nilai umum yang berlaku dalam sistem sekolah, konsep pengetahuan geografi, konsep pembelajaran, dan epistimologi  ilmu pengetahuan (Hertig dan Varcer, 2004). Oleh karena itu geografi pada sekolah dasar dan sekolah menengah berperan penting dalam menyiapkan  peserta didik yang terampil berpikir kritis dalam rangka memahami dunia. Dengan keterampilan berpikir kritis tersebut peserta didik dapat meneliti dan menjawab pertanyaan yang berkaitan  dengan hubungan timbal balik antara masyarakat dengan ruang dan hubungan timbal balik anara masyarakat yang berbeda-beda ke seluruh ruang.

  1. 2.    Tema Dasar, Keterampilan, dan Hasil Belajar  Geografi

Dalam dokumen Comitte on Geographic Education of the National Council fo Geographic Education and Association of American Geographers disebutkan tema-tema fundamental geografi untuk digunakan guru, pengembang kurikulum, dan administrator sekolah (GENIP, tanpa tahun; Clifford, tanpa tahun; Backler dan Stoltman, tanpa tahun; http://geography.about.com/od/teach-geography/a/5themes.htm). Tema dasar itu adalah Location: location di muka bumi, Palce: physical and Human Charac-teristic, Relationship within place: human and environment, Movement: human interaction on the earth, Region: haw they form and change.

Lokasi merupakan posisi di permukaan bumi. Ada lokasi absolut dan relatif, keduanya untuk menggambarkan posisi tempat di permukaan bumi. Dalam banyak situasi, mengidentifikasi lokasi absolut penting sebagai titik tepat di bumi. Misalnya, menentukan posisi yang tepat dari pasokan air bersih sangat penting untuk mengisi kebutuhan air bersih.

Tempat merupakan karakteristik alam dan budaya. Semua tempat di bumi memiliki karakteristik alam dan budaya yang berbeda dan membedakan mereka dari tempat lain. Karakteristik alam dipengaruhi oleh faktos geologis, proses hidrologis, atmosfer, dan biologis yang menghasilkan bentang alam, air, iklim, tanah, vegetasi alam, dan kehidupan hewan. Ide dan tindakan manusia juga mem-bentuk karakter tempat, yang bervariasi komposisi penduduknya, pola pemukiman, arsitektur, jenis kegiatan ekonomi dan rekreasi, transportasi dan jaringan komunikasi. Satu tempat juga mungkin berbeda dari yang lain secara ideologis dan prinsip-prinsip filosofis atau agama orang yang tinggal di sana, dengan bahasa mereka, dan dengan bentuk organisasi ekonomi, sosial, dan politik.

            Hubunan dalam wilayah merupakan hubungan  manusia dan lingkungan. Orang memodifikasi dan beradaptasi dengan pengaturan alam dengan cara yang mengungkapkan nilai-nilai budaya, keadaan ekonomi dan politik, dan kemampuan teknologi. Adalah penting untuk memahami bagaimana manusia-lingkungan hubungan mengembangkan dan apa konsekuensinya bagi masyarakat dan bagi lingkungan.

Mobilitas merupakan interaksi manusia di muka bumi. Penyebaran manusia tidak merata di seluruh bumi, berinteraksi satu sama lain, mereka mela-kukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, mereka berkomunikasi satu sama lain, atau mereka bergantung pada produk, informasi, dan ide yang datang dari luar lingkungan mereka. Bukti-bukti yang paling terlihat dari saling keter-gantungan global dan interaksi tempat adalah jaringan transportasi dan komuni-kasi yang menghubungkan setiap bagian dari dunia. Ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang berinteraksi dengan tempat-tempat lain hampir setiap hari dalam kehidupan mereka. Interaksi terus berubah seiring dengan perubahan transportasi dan perubahan teknologi komunikasi. Karena itu, kita perlu mengan-tisipasi perubahan ini dan untuk memeriksa konsekuensi geografis dan sosial.

Wilayah adalah bagaimana manusia membentuk perubahan. Unit dasar dari penelitian geografis adalah wilayah tersebut. Pada wilayah ini, setiap daerah yang menampilkan kesatuan dalam hal kriteria yang dipilih, biasanya digunakan untuk menunjukkan sejauh mana kekuasaan politik, seperti negara, propinsi, negara, atau kota. Namun, ada cara hampir tak terhitung jumlahnya untuk menentukan daerah yang bermakna, tergantung pada isu dan permasalahan yang dipertimbangkan. Beberapa wilayah ditentukan oleh karakteristik tunggal, seperti unit pemerintahan, kelompok bahasa, atau jenis tanah bentuk, dan lain-lain oleh interaksi fitur kompleks.

Serangkaian keterampilan geografis diperlukan untuk memproses infor-masi dalam studi dan analisis isu-isu penting. Keterampilan geografi terdiri atas: (1) mengajukan pertanyaan geografis dengan kata “dimana” dan “mengapa ada disana?”. (2) memperoleh informasi geografis. Keterampilan ini berkisar mengi-detifikasi lokasi menggunakan sistem grid, melalui melakukan pengamatan dan memperoleh informasi di lapangan, untuk memperoleh data statistik. (3) menya-jikan informasi geografis. Keterampilan ini melibatkan pembuatan peta, tabel, dan grafik, dan presentasi tertulis atau lisan yang koheren. (4) menafsirkan informasi geografis. Interpreting melibatkan kemampuan untuk menentukan peta tertentu, tabel, atau grafik (misalnya menggambarkan fenomena dengan grafik garis). (5) mengembangkan dan menguji informasi geografis. Keterampilan ini berupa membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang terkandung dalam peta, tabel, dan grafik.

Berdasarkan tema dasar dan keterampilan tersebut, hasil belajar geografi yang diharapkan berupa: (1) pemahaman lokasi absolut dan relatif. Hasil belajar ini merupakan aspek penting dari setiap fitur alam dan budaya di bumi. (2) penen-tuan signifikansi tempat dalam hal karakteristik mereka alami dan manusia dan bagaimana arti dari tempat berubah seiring waktu. Sebagai contoh, siswa akan dapat mengidentifikasi faktor-faktor alam dan manusia yang menyebabkan munculnya Jakarta sebagai kota besar dunia dan menggambarkan bagaimana Jakarta telah berubah. (3) menyadari bagaimana orang mendiami, memodifikasi, dan adaptasi kultural dengan lingkungan alam. Sebagai contoh, siswa akan menyadari bahwa hutan hujan telah digunakan untuk berburu dan mengumpulkan, untuk perladangan berpindah, untuk kehutanan, dan pertanian perkebunan. (4) pemahaman bagaimana tempat saling bergantung dan implikasi dari saling keter-gantungan itu. Sebagai contoh, siswa dapat memeriksa saling ketergantungan Indonesia dan Jepang dan memiliki beberapa ide bagaimana hal itu mempenga-ruhi kehidupan sehari-hari keluarga Indonesia dan Jepang. (5) siswa akan belajar menggunakan konsep daerah untuk membuat pernyataan umum tentang realitas. Sebagai contoh, siswa akan mengidentifikasi wilayah di dunia dimana memotong pohon di hutan untuk kayu bakar merupakan sumber energi utama, mereka akan dapat menjelaskan dan mengevaluasi tampilan manusia dan lingkungan yang ditemukan di bagian-bagian dunia dan mereka akan dapat menghubungkannya terhadap konsekuensi deforestasi.

Dalam mencapai semua tujuan ini, siswa akan dapat menggunakan peta untuk bertanya dan menjawab pertanyaan tentang isu-isu penting. Sebagai contoh, siswa akan dapat melihat peta berurusan dengan penduduk, penggunaan lahan, bentuk lahan, dan vegetasi untuk membuat kesimpulan tentang distribusi keke-ringan, misalnya kekeringan di Afrika. Berpengetahuan geografis melibat-kan tema-tema tertentu dan keterampilan yang dibahas dan dicerna siswa. Siswa dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan pemahaman dunia dan berpikir lebih efektif tentang hal itu.

Jika melihat implementasi pendidikan geografi di sekolah masih terdapat kekurangan, yaitu penggunaan peta.  Ada dua kendala yang dialami guru di seko-lah. Pertama, keterbatasan kesedian peta. Kedua, keterampilan guru dalam membaca peta. Untuk ke depan perlu dilakukan pengadaan peta sesuai dengan kebutuhan dan peningkatan keterampilan guru geografi dalam membaca peta.

  1. 3.    Delapan Belas Strandar Geografi

Standar Geografi Nasional di publikasikan pada tahun 1994 untuk menga-rahkan pendidikan geografi di Amerika Serikat (Rosenberg, tanpa tahun; http:// geography. about.com/od/teachgeography/a/18standards.htm). Kedelapan belas staandar seharusnya di ketahui dan dipahami secara perorangan, Harapannya setiap siswa di Amerika akan menjadi seorang informan secara geo-grafi melalui implementasi standar ini di dalam kelas. Kedelapan belas stadar adalah: (1) bagaimana mengunakan  peta, alat dan teknologi untuk memperoleh, memproses, dan melaporkan informasi. (2) bagaimana mengunakan peta mental untuk mengorganisasi informasi tentang penduduk, tempat tinggal dan lingkung-an. (3) Bagaimana menggunakan  analisis organisasi spasial penduduk, tempat tinggal dan lingkungan di muka bumi. (4) karakteristik manusia dan fisik alam dari tempat tinggal. (5) bahwa penduduk menciptakan wilayah-wilayah untuk mengin-tepretasi kompleksitas bumi. (6) bagaimana budaya dan pengalaman berpengaruh pada persepsi  tempat tinggal dan wilayah. (7) proses fisik alami yang membentuk pola permukaan bumi. (8) karakteristik dan penyebaran spasial dari ekosistem di permukaan bumi. (9) karakteristik, distribusi, dan migrasi penduduk. (10) karak-teristik, distribusi, dan kompleksitas musaik budaya di permukaan bumi. (11) pola dan jaringan saling ketergantungan ekonomi di muka  bumi. (12) proses, pola, dan fungsi pemukiman penduduk. (13) bagaiman proses kerjasama dan konflik antar penduduk yang berpengaruh pada pembagian dan kekuasaan di muka bumi. (14) bagaimana tindakan manusia memodifikasi lingkungan fisik. (15) bagaimana sistem lingkungan fisik berpengaruh pada sistem manusia. (16) perubahan-perubahan yang terjadi dalam kaitan cara, penggunaan, distribusi, dan pentingnya sumberdaya. (17) bagaimana menerap-kan geografi untuk mengin-tepretasi masa lalu. (18) menerapkan geografi untuk mengintepretasi kondisi saat ini dan masa mendatang.

  1. 4.    Pendidikan Geografi di Beberapa Negara

Pendidikan geografi berlangsung sejak lama dan mengalami pasang surut, seiring dengan kepentingan nasional dan kecenderungan global. Berikut dikemukan singkat pendidikan geografi dibeberapa negara, berkaitan dengan tujuan, struktur dan ruang ligkupnya. Negara-negara yang dimaksud adalah Inggris, Amerika, Australia, Jepang, Singapura, dan Indonesia yang menjadi pusat kajiannya.

Pendidikan gegrafi di Inggris sesuai dengan kurikulumnya, bertujuan:

(1) “to develop in young people a knowledge and understanding of the place they live in, of other people and places, and of how people and places interrelate and interconnect; of the significance of location; of human and physical environments; of people-environment relationships; and of the causes and consequences of change. (2) to develop the skills needed to carry out geographical study, e.g. geographical enquiry, mapwork and fieldwork. (3) to stimulate an interest in, and encourage and appreciation of the world around us, and (4) to develop an informed concern for the world around us and an ability and willingness to take positive action, both locally and globally.”

Struktur persekolahan formal di Inggris meliputi primary school dan secondary school. Primary school terdiri atas  enam grade, yaitu grade 1 hingga grade 6, dan secundary school terdiri atas secondary 1 dan secondary 2, masing-masing 2 grade. Mata pelajaran geografi diajarkan pada jenjang primary, secon-dary 1, dan senior secondary 2. Pada jenjang primary school dan  secondary 1 mata pelajaran ini disajikan secara terintegrasi dengan social study, dan pada secondary 2 geografi disajikan secara tersendiri (Clifford, tanpa ahun)

Pendidikan gegrafi di Australia sesuai dengan kurikulumnya, bertujuan:

 (1) develop a sense of wonder, curiosity, knowledge and interest about the variety of environments, peoples, cultures and places that exist throughout the world, providing students with a sound geographical knowledge of their own place, of Australia, and of the world. (2) enable students to explore and gain a good understanding of geographical thinking including its perspectives, concepts and ways of explaining. (3) enable students to become thoughtful and active local, national and global citizens, and to understand how they can infuence the futures of places. (4) develop students’ ability to ask geographical questions, plan an inquiry, collect and analyse information, (particularly through feldwork and spatial technologies), reach conclusions based on evidence and logical reasoning, and communicate their fndings in efective ways. (5)  build the confdent and creative use of geographical skills, and to enable students to use these skills to extend their knowledge; make sense of new situations, and to solve problems.((Australian Curriculum, Asesment, and Reporting Authority, 2010).

Struktur persekolahan formal di Australia meliputi primary school dan seconddary school. Primary school terdiri atas  enam grade, yaitu grade 1 hingga grade 6, dan junior secundary school, dan senior secondary, masing-masing 2 grade. Geografi merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah di Australia. Mata pelajaran ini diajarkan pada jenjang primary, junior secondary, dan senior secondary. Pada jenjang primary school dan  junior secondary school mata pelajaran ini disajikan secara terintegrasi dengan social study, dan pada senior seconddary school mata pelajaran geografi disajikan secara tersendiri (Australian Curriculum, Asesment, and Reporting Authority, 2010).

Struktur persekolahan formal di Japan meliputi elementary school, second-dary school, dan high school. Elementary school terdiri atas  enam grade, yaitu grade 1 hingga grade 6, dan secundary terdiri atas 3 grade, dan high school terdiri atas atas 3 grade. Geografi merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah di Jepang. Mata pelajaran ini diajarkan pada jenjang primary dan second-dary school yang disajikan secara terintegrasi dengan mata pelajaran social study,  baik pada elementary maupun secondary level. Pada grade satu dan dua bobot mata pelajaran social study sebesar 2 sks, dan pada grade tiga hingga enam sebesar 3 sks. Pada grade tujuh dan delapan bobot social study sebesar 4 sks, dan grade sembilan sebesar 3 sks (http://education.stateuniversity.-com/pages-/740/Japan-secondaryeducation.-html)

Struktur persekolahan formal di Singapore meliputi primary school dan secondary school. Primary school terdiri atas  enam grade, yaitu grade 1 hingga grade 6, dan secundary school terdiri atas secondary 1 dan secondary 2, masing-masing 2 grade. Pada jenjang secondary ini siswa dikelompokkan menjadi tiga jalur, yaitu jalur special/express, normal academic, dan jalur lower/vocational. Untuk jalur express waktu tempuh dapat lebih cepat dari pada jalur pendidikan ang lainnya. Untuk memasuki jalur ini, siswa harus memiliki prestasi tinggi dan direkomendasi oleh lembaga pendidikan sebelumnya. Untuk jalur normal akademik waktu belajar sesuai dengan waktu yang disediakan, tetapi bagi siswa tertentu yang memiliki kemajuan prestasi belajar yang tinggi dapat pindah kejalur ke express. Untuk jalur lower diperuntukkan bagi siswa yang memilih pendidikan vocational.

Geografi merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah di Singapore. Mata pelajaran ini diajarkan pada jenjang primary dan secondary school. Pada jenjang primary dan secondary satu, mata pelajaran geografi diajarkan secara terintegrasi dengan social study, sedangkan pada secondary dua, mata pelajaran tersebut diajarkan secara madiri.

  1. 5.    Pendidikan Geografi di Indonesia dalam perpspektif lintas negara

Tujuan mata pelajaran geografi untuk jenjang SD dan SMP terintegrasi dengan tujuan mata pelajaran IPS. Sedangkan pada jenjang SMA mata pelajaran geografi bertujuan (1) memahami pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan. (2) menguasai keterampilan dasar dalam mempero-leh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi. (3) menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat.

Sistem pendidikan formal Indonesia terstruktur dalam kelembagaan Seko-lah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA), serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SD berlang-sung enam tahun, SMP tiga tahun, SMA tiga tahun dan SMK tiga tahun. Pada jenjang SMP dan SMA secara elektif juga terdapat program akselerasi yang berlangsung selama 2 tahun, dan beberapa sekolah di Kabupaten dan kota menerapkan program tersebut. Dengan demikian, sekolah di negeri ini memiliki 12 tingkat kelas/grade dari kelas satu hingga kelas 12.

Geografi dalam struktur pendidikan tersebut dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran bersamaan dengan mata pelajaran lain. Pada jenjang SD dan SMP, geografi diajarkan secara terintegrasi dalam mata pelajaran IPS, sedangkan pada jenjang SMA, geografi diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri. Untuk kelas 10 disajikan sebagai mata pelajaran inti yang harus pelajari semua siswa, sedangkan untuk kelas 11 dan 12, mata pelajaran tersebut menjadi salah satu mata pelajaran pada program studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Ruang lingkup mata pelajaran geografi di Indonesia mencakup: (1) konsep dasar, pendekatan, dan prinsip dasar Geografi. (2) konsep dan karak-teristik dasar serta dinamika unsur-unsur geosfer mencakup litosfer, pedosfer, atmosfer, hidros-fer, biosfer dan antroposfer serta pola persebaran spasialnya. (3) jenis, karak-teristik, potensi, persebaran spasial Sumber Daya Alam (SDA) dan peman-faatannya. (4) jumlah, pertumbuhan, komposisi, penye-baran, dan permasalahan penduduk dan dampaknya. (5) karakteristik, unsur-unsur, kondisi (kualitas) dan variasi spasial lingkungan hidup, pemanfaatan dan pelestariannya. (6) kajian wilayah  negara-negara maju dan sedang berkembang. (7) konsep wilayah dan pewilayahan, kriteria dan pemetaannya serta fungsi dan manfaatnya dalam analisis geografi. (8) pengetahuan dan keterampilan dasar tentang seluk beluk dan pemanfaatan peta, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra pengin-deraan jauh.

Jika mencermati landasan konseptual pendidikan geografi di Indonesia sebagaimana diuraikan, terdapat tiga penting. Pertama, tujuan pendidikan geografi Indonesia telah memenuhi aspek geographical knowledge, skills, dan attitudes and values. Aspek geographical knowledge mencakup pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan.  Aspek skills men-cakup keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, meng-komunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi. Dan, aspek attitudes dan values mencakup perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat.

Kedua, struktur penempatan mata pelajaran geografi diberikan sejak dari SD dan SMP yang terintegrasi dengan mata pelajaran IPS hinga SMA yang monolitik. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, struktur penempatan mata pelajaran geografi di Indonesia termasuk terlama, yaitu sejak sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas. Hal itu menunjuk-kan, bahwa lulusan sekolah di Indonesia telah belajar geografi terlama di dunia.

Ketiga, ruang lingkup mata pelajaran geografi dimulai dari lokasi, tempat tinggal, wilayah, interaksi penduduk dengan lingkungannya, hingga ke ling-kungan global. Substansinya mencakup konsep dasar geografi; karakteristik dasar serta dinamika geospere dan persebaran spasialnya; Sumber Daya Alam dan pemanfaatannya, jumlah, pertumbuhan, komposisi, penyebaran, dan per-masalahan penduduk dan dampaknya; karakteristik, unsur-unsur, kondisi (kualitas) dan variasi spasial lingkungan hidup, peman-faatan dan peles-tariannya; kajian wilayah  negara-negara maju dan sedang berkembang; konsep wilayah dan pewilayahan, kriteria dan pemetaannya serta fungsi dan manfaatnya dalam analisis geografi; pengetahuan dan keterampilan dasar tentang seluk beluk dan pemanfaatan peta, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra penginderaan jauh. Dengan demikain secara substansial, materi pendidikan geografi di sekolah memenuhi lima tema dan delapan belas standar geografi yang berlaku di Amerika, United Kingdom dan negara-negara lain.     

Namun, dalam implementasinya masih perlu perbaikan secara terus menerus dan perubahan  yang mendasar. Pendidikan geografi di negeri ini masih ”tebelenggu” pada transfer of knowledge dan learning to testing. Praktek pendi-dikan masih diliputi dengan upaya mentranser pengetahuan sebanyak mungkin, dan mengetesnya pada akhir pelajaran untuk mengetahui daya serap dan ketuntasannya. Sementara, aspek keterampilan berfikir (skills), dan sikap dan nilai (attitusdes dan values) belum mendapat porsi pengembangan yang seim-bang dengan pengembangan pengetahuan geografi. Oleh karena itu perlu reorintasi dan reaktualisasi pendidikan geografi agar dapat mengantarkan siswa dalam dunia yang global dewasa ini.

KESIMPULAN

Pendidikan geografi merupakan bagian penting dari kehidupan suatu bangsa untuk membagun kesadaran warga negara tentang lingkungan tempat tinggal, wilayah, penduduk dan interaksi diantaranya. Pendidikan geografi merupakan bidang kajian atau ilmu yang dilandasi pendidikan dan geografi untuk meningkatkan kompetensi peserta didik tentang geographical knowledge, skills, dan attitudes dan values sebagai warga negara negara atau warga dunia. Tujuan pendidikan geografi/mata pelajaran geografi di Indonesia telah memenuhi cakup-an ketiganya.

Struktur penempatan mata pelajaran geografi di sekolah bervariasi antara antara satu negara dengan negara lain.  Secara umum mata pelajaran tersebut diberikan pada jenjang primary school/pendidikan dasar dan secondary school /SMP, namun di beberapa negara diberikan hingga sampai jenjang high school/SMA. Indonesia termasuk salah satu negara yang menempatkan geografi sebagai mata pelajaran di sekolah hingga jenjang SMA/high school, selain Inggris, Australia, dan Singapura.

Ruang lingkup mata pelajaran geografi yang berlangsung di banyak negara mengacu pada lima tema esensial, dan delapan belas standar geografi. Kilima tema tersebut adalah lokasi, place, relationship within place, movement, dan region. Kedelapan belas standar tersebut adalah penggunaan peta, alat dan teknologi; penggunaan peta mental; analisis organisasi spasial; karakteristik manusia dan fisik alam; penciptaan wilayah oleh penduduk; pengaruh budaya pada wilayah;  proses fisik yang membentuk pola permukaan bumi; karak-teristik, distribusi, dan migrasi penduduk; karakteristik, distribusi, dan komplek-sitas musaik budaya di permukaan bumi; pola dan jaringan saling ketergantungan ekonomi di muka  bumi; proses, pola, dan fungsi pemukiman penduduk; bagaimana proses kerjasama dan konflik antar penduduk yang ber-pengaruh pada pembagian dan kekuasaan di muka bumi; tindakan manusia memodifikasi lingkungan fisik; sistem lingkungan fisik berpengaruh pada sistem manusia; perubahan-perubahan yang terjadi dalam kaitan cara, penggunaan, distribusi, dan pentingnya sumberdaya; penerapan geografi untuk mengin-tepretasi masa lalu; penerapan geografi untuk mengintepretasi kondisi saat ini dan masa mendatang. Pendidikan geografi di Indonesia telah mengakodasi kelima dan kedelapan belas standar tersebut, walaupun belum selurunya.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Australian Curriculum, Asesment, and Reporting Authority, 2010. Draft Shape the Australian Curiculum: Geography, (online),  (http://www.Acara.Edu.Acara/-Geography.html, diakses 10 April 2012).

Clifford.  Ben. Tanpa tahun. Geografi dalam Sistem Sekolah Inggris, (Online), (http://geography.about.com/library/weekly/aa110899.htm,  diakses 11 April 2012).

Gerber, R. 2001.  The State of geographical Education in Countries around the World. International Research in Geographical and Environmental Education. 10(5), 349-363

_______. 2003. The Global Scence for Geographical Education. International Hand Bok on Geographical Education. Dordrecht: Kluwer.

Anonimeus. Tanpa tahun. Geographical Curriculum of Jepan Secondari School, (Online), (http://education.stateuniversity.com/pages/740/Japansecondaryeducation.html, diakses 15 Maret 2012).

Haurbrich, H. 2006. Changing Phylosophies in Geographical Education from the 1970s to 2005. An International Perspective. In J. Lidstone & William (Eds.) Dorgrecht: Springer.

Harm, de Blij. 1999. Geographic Education and Public,(Online),  (http://geography.about.com/library/misc/bldeblij1.htm, diakses 11 April 2012

Reinfried, Sibylle dan Hertig Philippe. Tanpa tahun. Gegraphical Education: How Human-Environment-Society Processes Work. Encyclopedia of LifeSupport System.

GENIP, tanpa tahun. K-6 Geography: Themes, Key Ideas, and Learning Oportunities. Tanpa kota: Rand McNally & Company

The National Council for Geographic Education and the Association of American Geographers. Tanpa tahun.  The eighteen standards of Geography, (Online), (http://geography.about.com/od/teachgeography/a/18standards.htm, diakses 15 April 2012).

The National Council for Geographic Education and the Association of American Geographers. Tanpa tahun .  The five themes of geography, (Online), (http://geography.about.com/od/teachgeography/a/5themes.htm, diakses 11 April 2012)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s