URGENSI UNDANG UNDANG INFORMASI DAN GEOSPASIAL UNTUK PERBAIKAN KUALITAS PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN GEOGRAFI

Budi Handoyo

                                   Geografi FIS Universitas Negeri Malang

ABSTRAK: Kualitas pendidikan geografi di sekolah masih menjadi salah satu permasalahan krusial pendidikan nasional dewasa ini. Implementasi pendidikan tersebut masih bias pada pengetahuan geografi (geographical knowledge), sementara ranah ketermpilan geografis (geographical skill), dan ranah sikap/nilai geografis (geographical attitude/value) tidak tumbuh optimal, bahkan kecenderungannya semakin tenggelam. Pada hal pada abad XXI ini kecenderungan pendidikan geografi mengarah pada geografi terpadu (integrated geography) yang mengarahkan tumbuhnya sikap kritis dan tanggung jawab warga negara pada isu-isu  kunci yang kompleks, seperti masalah lingkungan, sosial, budya, ekonomi dan politik. Kehadiran Undang Undang Informasi dan Geospasial dapat dijadikan momentum perbaikan kualitas pembelajaran geografi untuk meningkatkan mutu hasil belajar yang lebih optimal. Keberadaan undang-undang tersebut dapat menjadikan pendidikan geografi lebih spasial, kontekstual, dan aktual.

Kata Kunci: Kualitas Pendidikan Geografi,  UUIG

 

  1. A.  Pendahuluan

Agak sulit menjawab pertanyaan sejauhmana kualitas pendidikan geografi di negara kita yang luas dan bervariasi ini? Kesulitan itu terjadi, karena belum ada kesamaan indikator kuaitas  pendidikan tersebut antara Pemerintah—Kemendikbud sebagai ”pemangku kepentingan” dengan guru sebagai perencana, pelaksana dan penilai di tingkat sekolah. Oleh karena itu, upaya segera merumuskan indikator kualitas pendidikan tersebut menjadi penting untuk perbaikan mutu ke depan.

Dalam ”status quo” itu secara relatif, indikator yang biasanya digunakan adalah hasil Ujian Nasional (UN). Karena UN berlaku bagi siswa secara nasional dengan bobot soal yang kualitasnya relatif  sama. Hasil UN tahun 2012 menunjukkan kelulusan yang relative tinggi. Dari jumlah peserta ujian sebanyak 1.524.704 dinyatakan lulus sebesar 1.517.125 peserta atau sebesar 99,5%. Berasumsi pada hasil tersebut dapat dikatakan bahwa pada tahun 2012 ini, siswa nyaris lulus semua dalam mata pelajaran geografi. Namun, apakah fakta ini menggambarkan kualitas pendidikan geografi?

Tentu saja perlu hati-hati dalam memberikan penilaian terhadap fakta ini. Sebab, hasil UN sebenarnya belum mengambarkan hasil belajar geografi secara keseluruhan. Hasil UN tersebut baru menunjukkan aspek pengetahuan geografi (geographical knowledge), sementara aspek keterampilan geografis (geographical skill) dan sikap/nilai geografis (geographical attitude/value) yang keduanya menjadi bagian integral ranah pendidikan geografi, belum mendapat porsi yang seimbang untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran.

Aktualisasi ranah geographical skill dan geographical attitude/value sebagai dasar indikator mutu pendidikan geografi merupakan  langkah strategis bagi perbaikan mutu pendidikan geografi ke depan.  Hal lain yang turut menggembirakan adalah Undang Undang Informasi dan Geospasial (UUIG) yang telah di syahkan oleh DPR pada tahun 2011 lalu. Undang-undang tersebut memiliki arti penting—bagi pendidikan geografi, karena memberikan kepastian, keakurasian, dan kemutakhiran data spasial dan informasi spasial yang penting bagi pembelajaran geografi untuk pengembangan pengetahuan geografis, keterampian geografis, dan atitut/nilai geografis.  Inilah permasalahan yang perlu mendapat perhatian semua pihak yang terkait untuk peningkatan kualitas pendidikan geografi di masa kini dan akan datang.

  1. B.  PENDIDIKAN GEOGRAFI: THEMA DASAR DAN 18 STANDAR

Pendidikan geografi adalah suatu disiplin ilmu yang dilandasi oleh ranah pendidikan dan geografi (Reinfried, tanpa tahun). Pendidikan geografi merupakan konsep yang kompleks yang dapat dipahami dalam kaitan dengan ilmu geografi, tujuan pendidikan secara detail, posisinya pada pendidian formal dan in formal, dan komponen esensial terkait lainnya (Gerber, tanpa tahun).

Dari keempat yang perlu dipahami tersebut, tujuan pendidikan geografi merupakan aspek terpenting dalam kaitan mutu pendidikan geografi. Tujuan pendidikan geografi adalah mengembangkan geographical knowledge, skills, dan attitudes and values (The International Charter on Georap-hical Education/ICGE dalam Gerber, 2001). Geographical knowledge berkenaan dengan lokasi dan tempat, sistem alam–interaksi ekosistem, sistem sosioekonomi, keragaman masyarakat, struktur dan proses di suatu wilayah,  dan keterkaitan global. Skill berkenaan dengan proses berpikir yang memerlukan pemecahan masalah dan membuat keputusan spasial; penggunaan komunikasi verbal, kuantitatif, bentuk simbul data: grafik, teks, tabel, diagram, peta; keteram-pilan fisik-praktis—yang berkaitan dengan studi lapangan. Attitude and value berkenaan dengan minat dan rasa ingin tahu terhadap fenomena alam dan manusia; menghargai bentang alam dimana penduduk tinggal;   empati pada perbedaan kondisi kehidupan masyarakat; hormat pada kebenaran dan kesamaan.

Secara ringkas dapat dikatakan, bahwa tujuan pendidikan geografi adalah menyediakan orang muda yang berpengathuan geografi, yaitu  memahami sistem lingkungan fisik dan manusia yang saling berkaitan dan masyarakat dan tempat tinggalnya  berinteraksi. Dengan demikian Pendidikan geografi  tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang dunia dan  pengembangan skills geografi dasar, tetapi juga berkomitmen untuk menumbuhkembangkan kepribadian dan penguatan sikap  untuk partisipasi penuh dalam kehidupan yang dewasa dan masyarakat.  Hal itu juga mencakup pembahasan isu-isu etika, nilai, keadilan, dan moralitas (International Geographical Union Commission on Geographical  Education dalam Reinfried, tanpa tahun).  Masalah itu berkenaan dengan  kepentingan dunia dan perbedaan budayanya,  peduli terhadap lingkungan fisik dunia dan kondisi kehidupan yang berbeda, kualitas lingkungan dan alam, dan habitat manusia, evaluasi yang cerdas pada masalah kini,  dedikasi untuk berkontribusi pada pemecahan masalah, perasaan simpati pada masyarakat  dan cara-cara hidup yang berbeda  dan menghargai hak asasi manusia (Haurbrich, 2006).   

Pendidikan geografi memiliki tiga komponen yang saling terkait, yaitu subject matter, skill, dan perpective (Gerber, tanpa tahun). Ada enam elemen esensial subject matters, yaitu dunia dalam kaitan spasial, study tempat dan wilayah, pemahaman sistem fisik yang membentuk permukaan bumi, pemahmanan aktivitas manusia yang membentuk permukaan bumi,  pemahaman  bagaimana aktivitas mansuia memodifikasi  lingkungan alam sekitar, pemahaman  kegunaan geografi untuk pengetahuan yang berkaitan dengan masyarakat, tempat dan lingkungan. Skill geografi berkenaan penggunaan peralatan dan teknik untuk berpikir secara`geografis.  Perspektive merupakan komponen yang berkaitan dengan  interpretasi makna dari data yang terkumpul dalam penelitian, yaitu perspektif spasial dan kelingkungan.   

Pendidikan geografi mencakup geographical knowledge, skill, dan attitude and value yang memungkinkan siswa memahami proses manusia-lingkungan-masyarakat di dunia untuk mencapai masyarakat yang berpengatahuan geografi (geographical literate). Masyarakat yang berpengetahuan geografi dipengaruhi oleh  pemahamannya tentang tempat, keterkaitan antar tempat, dan tindakan keruangan  yang timbul oleh bermacam-macam pelaku/aktor. Pendidikan geografi juga mengembangkan dan mengevaluasi kurikulum, tujuan pembelajaran, metode pembelajaran dan proses pembelajaran.

Kecenderungan pendidikan di abad XXI ini ini berkenaan dengan  konsep geografi terpadu (integrative)  yang digunakan dalam proses pendidikan  dan berfikir kritis,  pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan,  informasi dan teknologi (ICT). Siswa perlu bertindak sebagai warga negara yang bertanggung jawab berkenaan dengan isu-isu kunci yang kompleks, yaitu lingkungan, sosial, budaya, ekonomi dan politik.  Pendidikan geografi merupakan suatu bidang  pendidikan yang mengajarkan siswa tinking skills (keterampilan berpikir) yang diperlukan untuk memahami  dan bertindak secara berkelanjutan di dunia. Tanpa geografi, anak-anak muda tidak siap untuk masa depan yang global.

Pada era dewasa ini konsep pendidikan geografi dipengaruhi oleh  empat parameter utama, yaitu nilai-nilai umum yang berlaku dalam sistem sekolah, konsep pengetahuan geografi, konsep pembelajaran, dan epistimologi  ilmu pengetahuan (Hertig dan Varcer, 2004). Oleh karena itu geografi pada sekolah dasar dan sekolah menengah berperan penting dalam menyiapkan  peserta didik yang terampil berpikir kritis dalam rangka memahami dunia. Dengan keterampilan berpikir kritis tersebut peserta didik dapat meneliti dan menjawab pertanyaan yang berkaitan  dengan hubungan timbal balik antara masyarakat dengan ruang dan hubungan timbal balik antara masyarakat yang berbeda-beda ke seluruh ruang.

  1. 1.    Tema Dasar, Keterampilan, dan Hasil Belajar  Geografi

Dalam dokumen Comitte on Geographic Education of the National Council fo Geographic Education and Association of American Geographers disebutkan tema-tema fundamental geografi untuk digunakan guru, pengembang kurikulum, dan administrator sekolah (GENIP, tanpa tahun; Clifford, tanpa tahun; Backler dan Stoltman, tanpa tahun). Tema dasar itu adalah Location: location of the earth surface, Palce: physical and Human Characteristic, Relationship within place: human and environment, Movement: human interaction on the earth, Region: how they form and change.

Lokasi merupakan posisi di permukaan bumi. Ada lokasi absolut dan relatif, keduanya untuk menggambarkan posisi tempat di permukaan bumi. Dalam banyak situasi, mengidentifikasi lokasi absolut penting sebagai titik tepat di bumi. Misalnya, menentukan posisi yang tepat dari pasokan air bersih sangat penting untuk mengisi kebutuhan air bersih.

Tempat merupakan karakteristik alam dan budaya. Semua tempat di bumi memiliki karakteristik alam dan budaya yang berbeda dan membedakan mereka dari tempat lain. Karakteristik alam dipengaruhi oleh faktos geologis, proses hidrologis, atmosfer, dan biologis yang menghasilkan bentang alam, air, iklim, tanah, vegetasi alam, dan kehidupan hewan. Ide dan tindakan manusia juga membentuk karakter tempat, yang bervariasi komposisi penduduknya, pola pemukiman, arsitektur, jenis kegiatan ekonomi dan rekreasi, transportasi dan jaringan komunikasi. Satu tempat juga mungkin berbeda dari yang lain secara ideologis dan prinsip-prinsip filosofis atau agama orang yang tinggal di sana, dengan bahasa mereka, dan dengan bentuk organisasi ekonomi, sosial, dan politik.

            Hubungan dalam wilayah merupakan hubungan  manusia dan lingkungan. Orang memodifikasi dan beradaptasi dengan pengaturan alam dengan cara yang mengungkapkan nilai-nilai budaya, keadaan ekonomi dan politik, dan kemampuan teknologi. Adalah penting untuk memahami bagaimana hubungan manusia-lingkungan dan apa konsekuensinya bagi masyarakat dan bagi lingkungan.

Mobilitas merupakan interaksi manusia di muka bumi. Penyebaran manusia tidak merata di seluruh bumi, berinteraksi satu sama lain, mereka melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, mereka berkomunikasi satu sama lain, atau mereka bergantung pada produk, informasi, dan ide yang datang dari luar lingkungan mereka. Bukti-bukti yang paling terlihat dari saling ketergantungan global dan interaksi tempat adalah jaringan transportasi dan komunikasi yang menghubungkan setiap bagian dari dunia. Ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang berinteraksi dengan tempat-tempat lain hampir setiap hari dalam kehidupan mereka. Interaksi terus berubah seiring dengan perubahan transportasi dan perubahan teknologi komunikasi. Karena itu, kita perlu mengantisipasi perubahan ini dan untuk memeriksa konsekuensi geografis dan sosialnya.

Wilayah adalah bagaimana manusia membentuk perubahan. Unit dasar dari penelitian geografis adalah wilayah tersebut. Pada wilayah ini, setiap daerah yang menampilkan kesatuan dalam hal kriteria yang dipilih, biasanya digunakan untuk menunjukkan sejauh mana kekuasaan politik, seperti negara, propinsi atau kota. Namun, ada cara hampir tak terhitung jumlahnya untuk menentukan daerah yang bermakna, tergantung pada isu dan permasalahan yang dipertimbangkan. Beberapa wilayah ditentukan oleh karakteristik tunggal, seperti unit pemerintahan, kelompok bahasa, atau jenis tanah dan lain-lain oleh interaksi elemen yang kompleks.

Serangkaian keterampilan geografis diperlukan untuk memproses informasi dalam studi dan analisis isu-isu penting. Keterampilan geografi terdiri atas: (1) mengajukan pertanyaan geografis dengan kata “dimana” dan “mengapa ada disana?”. (2) memperoleh informasi geografis. Keterampilan ini berkisar idetifikasi lokasi yang menggunakan sistem grid, melalui pengamatan dan memperoleh informasi di lapangan, untuk memperoleh data statistik. (3) menyajikan informasi geografis. Keterampilan ini melibatkan pembuatan peta, tabel, dan grafik, dan presentasi tertulis atau lisan yang koheren. (4) menafsirkan informasi geografis. Interpreting melibatkan kemampuan untuk menentukan peta tertentu, tabel, atau grafik (misalnya menggambarkan fenomena dengan grafik garis). (5) mengembangkan dan menguji informasi geografis. Keterampilan ini berupa membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang terkandung dalam peta, tabel, dan grafik.

Berdasarkan tema dasar dan keterampilan tersebut, hasil belajar geografi yang diharapkan berupa: (1) pemahaman lokasi absolut dan relatif. Hasil belajar ini merupakan aspek penting dari setiap fitur alam dan budaya di bumi. (2) penentuan signifikansi tempat dalam hal karakteristik mereka alami dan manusia dan bagaimana arti dari tempat berubah seiring waktu. Sebagai contoh, siswa akan dapat mengidentifikasi faktor-faktor alam dan manusia yang menyebabkan munculnya Jakarta sebagai kota besar dunia dan menggambarkan bagaimana Jakarta telah berubah. (3) menyadari bagaimana orang mendiami, memodifikasi, dan adaptasi kultural dengan lingkungan alam. Sebagai contoh, siswa akan menyadari bahwa wilayah hutan hujan tropis telah digunakan untuk berburu dan mengumpulkan, untuk perladangan berpindah, untuk kehutanan, dan pertanian perkebunan. (4) pemahaman bagaimana tempat saling bergantung dan implikasi dari saling ketergantungan itu. Sebagai contoh, siswa dapat memeriksa saling ketergantungan Indonesia dan Jepang dan memiliki beberapa ide bagaimana hal itu mempengaruhi kehidupan sehari-hari keluarga Indonesia dan Jepang. (5) siswa akan belajar menggunakan konsep daerah untuk membuat pernyataan umum tentang realitas. Sebagai contoh, siswa akan mengidentifikasi wilayah di dunia dimana memotong pohon di hutan untuk kayu bakar merupakan sumber energi utama, mereka akan dapat menjelaskan dan mengevaluasi tampilan manusia dan lingkungan yang ditemukan di bagian-bagian dunia dan mereka akan dapat menghubungkannya terhadap konsekuensi deforestasi.

Dalam mencapai semua tujuan ini, siswa dapat menggunakan peta untuk bertanya dan menjawab pertanyaan tentang isu-isu penting. Sebagai contoh, siswa akan dapat melihat peta berurusan dengan penduduk, penggunaan lahan, bentuk lahan, dan vegetasi untuk membuat kesimpulan tentang distribusi kekeringan, misalnya kekeringan di Afrika. Berpengetahuan geografis melibatkan tema-tema tertentu dan keterampilan yang dibahas dan dicerna siswa. Siswa dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan pemahaman dunia dan berpikir lebih efektif tentang hal itu.

Jilka melihat implementasi pendidikan geografi di sekolah masih terdapat kekurangan dalam kompetensi penggunaan peta. Pembelajaran masih bertumpu pada pengetahuan peta, seperti definisi peta, jenis-jenis peta, skala peta, dan seterusnya. Ke depan perlu lebih ditekankan pada penggunaan peta. Dalam kaitan hal tersebut, ada dua kendala dalam pembelajaran geografi, pertama, keterbatasan kesedian peta di sekolah, dan kedua, budaya menggunakan peta dalam kehidupan. Untuk itu, pengadaan peta, terutama peta tematik sebagai kelengkapan pembelajaran geografi sangat penting. Dan, dalam era digital dewasa ini, peta tersebut dapat diadakan secara cepat dan murah.

  1. 2.    Delapan Belas Strandar untuk Pendidikan Geografi

Standar Geografi Nasional di publikasikan pada tahun 1994 untuk mengarahkan pendidikan geografi di Amerika Serikat (Rosenberg, tanpa tahun; http:// geography. about.com/od/teachgeography/a/18standards.htm). Kedelapan belas standar seharusnya di ketahui dan dipahami secara perorangan. Harapannya setiap siswa di Amerika akan menjadi seorang informan secara geografi melalui implementasi standar ini di dalam kelas. Kedelapan belas stadar adalah: (1) bagaimana mengunakan  peta, alat dan teknologi untuk memperoleh, memproses, dan melaporkan informasi. (2) bagaimana mengunakan peta mental untuk mengorganisasi informasi tentang penduduk, tempat tinggal dan lingkungan. (3) Bagaimana menggunakan  analisis organisasi spasial penduduk, tempat tinggal dan lingkungan di muka bumi. (4) karakteristik manusia dan fisik alam dari tempat tinggal. (5) bahwa penduduk menciptakan wilayah-wilayah untuk mengintepretasi kompleksitas bumi. (6) bagaimana budaya dan pengalaman berpengaruh pada persepsi  tempat tinggal dan wilayah. (7) proses fisik alami yang membentuk pola permukaan bumi. (8) karakteristik dan penyebaran spasial dari ekosistem di permukaan bumi. (9) karakteristik, distribusi, dan migrasi penduduk. (10) karakteristik, distribusi, dan kompleksitas musaik budaya di permukaan bumi. (11) pola dan jaringan saling ketergantungan ekonomi di muka  bumi. (12) proses, pola, dan fungsi pemukiman penduduk. (13) bagaiman proses kerjasama dan konflik antar penduduk yang berpengaruh pada pembagian dan kekuasaan di muka bumi. (14) bagaimana tindakan manusia memodifikasi lingkungan fisik. (15) bagaimana sistem lingkungan fisik berpengaruh pada sistem manusia. (16) perubahan-perubahan yang terjadi dalam kaitan cara, penggunaan, distribusi, dan pentingnya sumberdaya. (17) bagaimana menerapkan geografi untuk mengintepretasi masa lalu. (18) menerapkan geografi untuk mengintepretasi kondisi saat ini dan masa mendatang.

  1. 3.    Kualitas Sebagai Tantangan Pendidikan Geografi di Indonesia

Pendidikan geografi diajarkan dalam jenjang dengan tujuan dan ruang lingkup yang saling berkaitan. Mata pelajaran ini dijarkan pada jenjang SD, SMP, dan SMA. Pada jenjang  SD dan SMP, geografi diajarkan secara terintegrasi dalam mata pelajaran IPS, sedangkan pada jenjang SMA, geografi diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri. Untuk kelas 10 disajikan sebagai mata pelajaran inti yang harus pelajari semua siswa, sedangkan untuk kelas 11 dan 12, mata pelajaran pilihan tersebut menjadi salah satu mata pelajaran pada program studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Struktur penempatan mata pelajaran yang demikian tentu mengembirakan pada kita. Sebab, dibanyak Negara, mata pelajaran ini  diajarkan dijenjang primary school dan secondary school. Sekali pun demikian, implementasi pembelajarannya cukup efektif dalam membelajarkan pengetahuan, keterampilan, sikap/nilai geografi. Sementara, di negara kita, mata pelajaran geografi yang diajarkan dari jenjang SD hingga SMA masih belum efektif, terutama pada aspek geographical skill dan geographical attitude/value. Hal itu dapat terjadi karena ada aspek metodologis yang perlu peningkatan keefektifannya.

Tujuan mata pelajaran geografi untuk jenjang SD dan SMP terintegrasi dengan tujuan mata pelajaran IPS. Sedangkan, pada jenjang SMA mata pelajaran geografi bertujuan (1) memahami pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan. (2) menguasai keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi. (3) menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat (Permendiknas, 6/2006).

Ruang lingkup mata pelajaran geografi di Indonesia mencakup: (1) konsep dasar, pendekatan, dan prinsip dasar geografi. (2) konsep dan karakteristik dasar serta dinamika unsur-unsur geosfer mencakup litosfer, pedosfer, atmosfer, hidrosfer, biosfer dan antroposfer serta pola persebaran spasialnya. (3) jenis, karak-teristik, potensi, persebaran spasial Sumber Daya Alam (SDA) dan pemanfaatannya. (4) jumlah, pertumbuhan, komposisi, penyebaran, dan permasalahan penduduk dan dampaknya. (5) karakteristik, unsur-unsur, kondisi (kualitas) dan variasi spasial lingkungan hidup, pemanfaatan dan pelestariannya. (6) kajian wilayah  negara-negara maju dan sedang berkembang. (7) konsep wilayah dan pewilayahan, kriteria dan pemetaannya serta fungsi dan manfaatnya dalam analisis geografi. (8) pengetahuan dan keterampilan dasar tentang seluk beluk dan pemanfaatan peta, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra penginderaan jauh.

Jika mencermati tujuan dan  ruang lingkup mata pelajaran geografi sebagaimana diuraikan, terdapat dua hal penting. Pertama, pendidikan geografi Indonesia telah memenuhi aspek geographical knowledge, skills, dan attitudes and values. Aspek geographical knowledge mencakup pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan.  Aspek skills mencakup keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi. Dan, aspek attitudes dan values mencakup perilaku peduli terhadap lingkungan hidup, arif memanfaatkan sumber daya alam dan toleran terhadap keragaman budaya masyarakat. Dalam istilah sekarang, aspek attitude dan values ini disebut nilai-niai karakter.

Kedua, ruang lingkup mata pelajaran geografi dimulai dari lokasi, tempat tinggal, wilayah, interaksi penduduk dengan lingkungannya, hingga ke lingkungan global. Substansinya mencakup konsep dasar geografi; karakteristik dasar serta dinamika geospere dan persebaran spasialnya; Sumber Daya Alam dan pemanfaatannya, jumlah, pertumbuhan, komposisi, penyebaran, dan permasalahan penduduk dan dampaknya; karakteristik, unsur-unsur, kondisi (kualitas) dan variasi spasial lingkungan hidup, pemanfaatan dan peles-tariannya; kajian wilayah  negara-negara maju dan sedang berkembang; konsep wilayah dan pewilayahan, kriteria dan pemetaannya serta fungsi dan manfaatnya dalam analisis geografi; pengetahuan dan keterampilan dasar tentang seluk beluk dan pemanfaatan peta, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra penginderaan jauh. Dengan demikain secara substansial, materi pendidikan geografi di sekolah memenuhi lima tema dan delapan belas standar geografi yang berlaku di Amerika, United Kingdom maupun negara-negara lain.     

Namun, dalam implementasinya, pendidikan geografi di negeri ini masih ”tebelenggu” transfer of knowledge dan learning to testing. Praktek pendidikan masih diliputi transer pengetahuan sebanyak mungkin, dan mengetesnya pada akhir pelajaran untuk mengetahui daya serap dan ketuntasannya. Sementara, aspek geographical skill (keterampilan geografis) dan geographical attitude/values) belum mendapat porsi seimbang dengan pengembangan pengetahuan geografi. Oleh karena itu, perlu reorintasi dan reaktualisasi pendidikan geografi agar dapat menmbuhkembangkan pribadi yang lebih utuh, yaitu siswa yang berpengetahuan geografi luas, terampil berpikir geografis yang cerdas, dan memiliki sikap/atitut/nilai yang mulia.

Reorientasi dimaksudkan untuk mengembalikan arah pembelajaran geografi pada tujuan yang sebenarnya, agar tidak hanya memfokuskan geographical knowledge sebagai ranah utama dalam pembelajaran, tetapi juga geographical skill, dan geografphical attitude/values siswa secara seimbang. Secara operasional, riorientasi dapat dilakukan dengan melakukan perbaikan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran. Rerenca pembelajaran (RPP) perlu dikembangkan pada aspek indikator dan tujuan pembelajarnnya. Indikator dan tujuan pembelajaran perlu dikembangkan dengan melengkapi aspek geographical skill dan geographical attitude/values yang tepat. Dalam pelaksanaan pembelajaran, kedua aspek tesebut diaktualisasikan secara konsisten, dan dalam penilaiannya, kedua aspek tersebut juga di nilai dan dimasukkan ke dalam rapor siswa.

Reaktualisasi dimaksudkan untuk mengembangkan pembelajaran geografi agar selalu mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi, kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Pembelajaran geografi perlu pro aktif untuk memafaatkan data spasial dan informasi spasial yang tersedia dan diperbarui oleh lembaga yang berwenang. Dengan begitu, siswa akan mendapat data dan informsi spasial yang mutakhir yang bermnfaat bagi pengembangan dirinya.

  1. C.  Undang Undang Informasi dan Geospasial dan Urgensinya bagi Perbaikan Kualitas Pendidikan Geografi  

Sudah lama kita berharap memiliki undang-undang yang mengatur data dan informsi keruangan/spasial. Sebab, negara kita mimiliki wilayah luas dengan kekayaan serta keragaman sumber daya alam yang menyebar dibawah, pada, dan diatas permukaan bumi.  Sumber daya alam tersebut perlu dikelola secara baik dengan menuangkannya menjadi data dan informasi spasial yang dapat digunakan untuk menopang berbagai kepentingan penyelenggaraan kehidupan bernegara maupun bermasyarakat. Tanpa undang undang tersebut, tentu pengelolaan sumber daya alam yang ada tidak dapat berjalan optimal. Namun, juga tidak berarti dengan undang undang tersebut pengelolaan SDA yang kata banyak pihak ”karut marut” ini terselesaikan. Undang undang tersebut dapat menjadi rambu-rambu bagi guru dan siswa atau bahkan semua pihak tentang adanya data dan informasi keruangan yang dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran geografi. Karena itu, kehadiran UUIG ini patut disyukuri masyarakat Indonesia.

Sebagaimana dituangkan dalam konsideran UUIG sebagai berikut.

”bahwa negara kesatuan Repblik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri nusantara dengan segala kekayaan sumerdaya alam dan sumber daya lainnya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dikelola dengan baik dengan penuh rasa tanggung jawab untuk menjadi sumber kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia, baik di masa kini maupun dimasa mendatang”.

bahwa dalam mengelola sumber alam dan sumber daya lainnya sert penggulangan bencana dalam wilayah Negara kesatuan Republik Indonsia dan wilayah yuridiksa diperlukan informasi geospasial.

bahwa agar informasi geospasial dapat terselengara dengan tertib, terpadu, berhasil guna, dan berdaya guna sehingga terjamin keakuratan, kemutakhiran, dan kepastian hukum, maka perlu pengaturan mengenai penyelenggaraan informasi geospasial”.

Tujuan UUIG adalah: (1) menjamin ketersediaan dan akses terhadap IG yang dapat dipertanggungjawabkan. (2) mewujudkan penyelenggaraan IG yang berdaya guna dan berhasil guna melalui kerjasama, koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi. (3) mendorong penggunaan IG dalam penyelenggaraan pemerintahan dan dalam berbagai kehidupan masyarakat.

Dalam kaitannya dengan pendidikan geografi, UUIG tersebut dapat berpengaruh positif bagi peningkatan kualitas pembelajaran. Kehadiran UUIG akan menumbuhkan peluang, kesempatan dan partisipasi guru dan siswa dalam geographical knowledge, geographical skill, dan geographical attitude/value, seperti:

(1)  membantu guru dan siswa mendapatkan  data dan informasi kerungan  lebih cepat, akurat dan mudah.

(2)  memperbesar akses guru dan siswa memperoleh data dan informasi spasial

(3) menumbuhkan budaya partisipasi yang kolaboratif, koordinatif, integratif, dan sinkronisasi di kalangan guru dan siswa dalam peningkatan kualitas data dan informasi spasial.

Sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya, bahwa kualitas pendidikan geografi di negara kita masih perlu peningkatan. Implementasi pendidikan geografi di sekolah masih terfokus pada geographical knowledge, sementara ranah geographical skill dan geographical attitude belum dikembangkan secara seimbang. Kehadiran UUIG akan dapat menjadikan pendidikan/pembelajaran geografi lebih spasial, kontekstual dan aktual.

Kritik pada pendidikan implementasi gegrafi menyiratkan, bahwa performa pendidikan tersebut kurang mampu membelajarkan siswa secara spasial. Pembelajaran geografi lebih menekankan pada objek material, sementara objek formal yang berupa pendekatan keruangan kurang terintegrasi pada setiap topik pembelajaran. Sebagaimana dikemukakan Purwanto (2011), bahwa pembelajaran geografi lebih menonjolkan ilmu bantu dari pada geografi itu sendiri  sehingga tidak ada bedanya belajar geografi dengan belajar ilmu bantunya. Hal itu diperkuat oleh Rindarjono (2012) bahwa studi geografi selama ini tidak dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pemecahan masalah, karena dalam studinya – termasuk dalam pembelajaran geografi di sekolah kurang menekankan pada pendekatan spasial—pada hal kekuatan studi geografi justru pada pendekatan spasial tersebut…secara bergurau sering dikemukakan, geografi itu ”opo-opo iso, tapi ora iso opo-opo”. Menurut Handoyo (2010) sebagai dampaknya, pembelajaran geografi belum mempu membentuk pola pikir (mainset) spasial pada diri siswa. Contoh siswa dapat menjelaskan kondisi air sungai Brantas yang berkaitan dengan debet air, arus air, kualitas air, dan pencemaran airnya, tetapi  tidak memahami dengan baik letak, tempat dan posisi sungai tersebut dari hulu hingga hilir sehingga belum nampak kontribusi belajar geografi dan belajar ilmu bantu geografi.

Permasalahan tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor. Salah satu diantaranya adalah ketidaktersediaan data dan informasi spasial yang mendukung topik pembelajaran yang sedang di pelajari siswa. Mencari data dan informasi spasial yang berupa lokasi, tempat, dan posisi suatu fenomena/kejadian sungguh tidak mudah, selain memerlukan waktu yang relatif lama. Mencari data dan informasi spasial sungai-sungai di Indonesia, seperti S Berantas, S Solo, S Mahakam, S Siak, S Mamberamo ternya tidak mudah. Demikian pula mencari data dan informasi fenomena lain, seperti data dan informasi Danau, Hutan, Tambang, Kota, Desa, dan sebagainya. Fenomena tersebut belum keseluruhannya di lengkapi dengan data dan informasi geospasialnya. Oleh karena itu, kehadiran UUIG yang kemudian diikuti implementasinya secara konsisten dan baik akan menghasilkan data dan informasi geospasial yang sangat membantu guru dalam peningkatan kualitas pembelajaran geografi.

Pembelajaran kontekstual dipandang sebagai salah satu strategi atau pendekatan pembelajaran yang baik dalam menghasilkan output dan outcomes. Pembelajaran  kontekstual terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami  apa yang sedang dikerjakan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa, dan tenaga kerja (Universitas Wasington dalam Nur, 2001).

Untuk menerapkan pembelajaran kontekstual diperlukan strategi pembelajaran yang tepat. Blancard dalam Handoyo (2012) menyatakan strategi pembelajaran kontekstual sebagai berikut.  (1) menekankan pembelajarannya berbasis masalah. (2) penggunaan konteks yang beragam. (3) menggambarkan keberadaan siswa yang beragam. (4) mendorong pembelajaran mandiri. (5) penggunaan kelompok belajar yang saling tergantung. (6) menerapkan asesmen otentik.

Untuk menguji sejauhmana pembelajaran itu bermakna kontekstual Texas Collaboratif  for Teaching Exelence (2002-2003) menganjurkan 10 butir per-tanyaan berikut.

(1) apakah kehadiran konsep baru berkaitan dengan pengalaman dan situasi kehidupan nyata (di luar kelas) yang akrap dengan siswa?

(2) Apakah konsep-konsep dan pengalaman yang dipelajari dalam konteks yang berguna bagi siswa ?

(3) Apakah konsep-konsep baru yang dipelajri diketahui siswa?

(4) Apakah contoh dan pengnaturalisan siswa banyak menyangkut dunia nyata, situasi pemecahan masalah yang dianggap penting bagi siswa untuk kehidupan dimasa kini dan akan datang?

(5) Apakah  pengalaman siswa menanamkan sikap yang menyatakan ”saya perlu untuk belajar ini”?

(6) Apakah siswa secara bersama menganalisis data yang dimilikinya sebagai arahan dalam penemuan konsep yang penting ?

(7) Apakah peluang-peluang yang dihadirkan pada siswa secara bersama dan menganalisis  data yang dimilikinya untuk memper-kaya dan memperluasnya?

(8) Apakah pelajaran dan kegiatan mendorong memberanikan siswa untuk menerpakan konsep  daninformasi dalam konteks yang berguna yang memproyeksikan siswa  (misalnya untuk peluang karier)?

(9) Apakah pengalaman siswa untuk berpartisipasi secara teratur dalam kelompok interaktif tercipta kerjasama, komunikasi, dan tanggung jawab pada konsep-konsep penting dan pengambilan skeputusan telah terjadi?

(10) Apakah pelajaran, pengalaman, dan laboratorium mampu memperbaiki keterampilan komunikasi oral dan tertulis?

Agar guru dan siswa dapat menerapkan pembelajaran kontekstual secara efektif, keberadaan data dan informasi spasial yang dijamin dalam UUIG menjadi bagian penting. Data dan informasi spasial itu akan membantu siswa untuk mengenali objek yang dipelajari, mengidentifikasi jenis dan bentuknya, dan menghubungkan antara fenomena satu dengan fenomena lain. Dengan demikian geographical skill dan geographical attitude/value siswa akan tumbuh lebih optimal. Dengan kata lain kehadiran UUIG akan memberikan akses yang lebih besar bagi guru untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran kontekstual. Keberadaan data dan informasi spasial dapat menjadi sumber belajar yang memudahkan bagi guru untuk mengaitkan dengan dunia nyata.

Aktualitas data dan informasi spasial sangat penting bagi dinamika pembelajaran geografi. Data dan informasi yang mutakhir akan memberikan peluang kepada siswa untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran yang aktual yang diperlukan untuk pemecahan masalah yang sedang berlangsung.

Kemutakhiran data dan informasi juga dapat membuat pembelajaran geografi menjadi lebih bermakna. Dengan kemutakhiran data dan informasi itu, siswa dapat mengindentifikasi permasalahan yang terkini dan merumuskan alternatif pemecahannya. Dengan begitu, pembelajaran akan mengantarkan siswa ditengah permasalahan dan menjadikan mereka sebagai salah satu aktor dalam memecahkan permasalahan tersebut.

 

DAFTAR RUJUKAN

Australian Curriculum, Asesment, and Reporting Authority, 2010. Draft Shape the Australian Curiculum: Geography, (online),  (http://www.Acara.Edu.Acara/-Geography.html, diakses 10 April 2012).

Anonimeus. Tanpa tahun. Geographical Curriculum of Jepan Secondari School, (Online), (http://education.stateuniversity.com/pages/740/Japansecondaryeducation.html, diakses 15 Maret 2012).

Clifford.  Ben. Tanpa tahun. Geografi dalam Sistem Sekolah Inggris, (Online), (http://geography.about.com/library/weekly/aa110899.htm,  diakses 11 April 2012).

Gerber, R. 2001.  The State of geographical Education in Countries around the World. International Research in Geographical and Environmental Education. 10(5), 349-363

GENIP, tanpa tahun. K-6 Geography: Themes, Key Ideas, and Learning Oportunities. Tanpa kota: Rand McNally & Company

_______. 2003. The Global Scence for Geographical Education. International Hand Bok on Geographical Education. Dordrecht: Kluwer.

Handoyo, B. 2012. Pendidikan Geografi Lintas Negara, (Online), (hangeo.wordpress.com, diakses 8 Juni 2012).

________. 2010. Meningkatkan Kompetensi Mahasiswa dalam Mendeskripsikan Struktur Keruangan Kota pada Mata Kuliah Geografi Desa Kota, (Online), (hangeo.wordpress.com, diakses 5 Juni 2012).

Haurbrich, H. 2006. Changing Phylosophies in Geographical Education from the 1970s to 2005. An International Perspective. In J. Lidstone & William (Eds.) Dorgrecht: Springer.

Harm, de Blij. 1999. Geographic Education and Public,(Online),  (http://geography.about.com/library/misc/bldeblij1.htm, diakses 11 April 2012

Permendiknas No 23 tahun 2006 tentang Standar Isi, (Online), (http//ww:

Purwanto, 2011. Komunikasi Personal.

Rindarjono, Gamal. 2012. Informasi Geospasial untuk Peningkatan Kecerdasan Spasial (Spatial Thinking) Masyarakat dalam rangka Pengurangan Resiko Bencana. Prosiding. Surakarta: Prodi Pendidikan Geografi FIP UNS

Reinfried, Sibylle dan Hertig Philippe. Tanpa tahun. Gegraphical Education: How Human-Environment-Society Processes Work. Encyclopedia of LifeSupport System.

Undang Undang Informasi dan Geospasial No 4 tahun 2011, (Online), (http://

The National Council for Geographic Education and the Association of American Geographers. Tanpa tahun .  The five themes of geography, (Online), (http://geography.about.com/od/teachgeography/a/5themes.htm, diakses 11 April 2012)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s