MODEL PEMBELAJARAN GEOGRAFI UNTUK PENGUATAN KARAKTER PESETA DIDIK DALAM MENOPANG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Budi Handoyo

Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang

E-mail: budi.handoyo78@yahoo.com

 

Reflecting to the people development on the last decade shows that there is a people moral decay. The case of corruption,  violence, pornography up to mass cheating on exam that contaminate the young generation. These realities appear a new awareness to strengthen a character education through a learning model. The result of the research were a model of the geographical learning for strengthening student character. There were  eight steps of them, are communicating learning objective; safety moment; observation; communication and conformation; elaboration; discussion; action; conclusion, and reflection and follow up. Implementing the learning model will able to develop character values such as  critical thinking,  problem solving, real action, and environmental caring. The learning model is applicable to develop student competences in relating with the sustainable development.

Key Notes: Geographical Learning Model, Character Values, Sustainable development

Pendidikan karakter sebagai upaya pemecahan masalah dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, khusunya dalam masalah lingkungan  semakin disadari urgensinya oleh pemerintah sejak beberapa tahun terakhir (Mangunsong, 2010; Nuh, 2011). Kesadaran itu tumbuh karena keprihatinan  terhadap kemerosotan moral yang berlangsung dimasyarakat, termasuk dikalangan remaja dan anak-anak, seperti kekerasan, pornografi, contek masal, buang sampah sembarangan, boros energy dan air.

Karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku seseorang yang khas untuk hidup dan bekerjasama dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter bisa membuat keputusan dan siap mempertanggung-jawabkan keputusan yang dibuatnya (Suyanto, 2010). Nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan  Tuhan Yang maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hokum dan tata karma, budaya dan adat istiadat (Sudrajat, 2010).

Mengacu pada konsep tersebut, terdapat sembilan pilar karakter nilai-nilai luhur universal, yaitu cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran/amanah, diplomatis, hormat dan santun,  dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama, percaya diri dan pekerja keras, kepemimpinan dan keadilan, baik dan rendah hati, toleransi, kedamaian, dan kesatuan. Sementara itu, Kementrian Pendidikan Indonesia (2010) mengelaborasi 18 nilai karakter bangsa yang perlu ditumbuhkembangkan di sekolah, yaitu relegius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai,  gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Sekolah efektif memiliki sistem pembelajaran yang mampu menumbuh-kembangkan nilai-nilai karakter pada diri peserta didik. Dalam kaitan itu secara nasional telah ditetapkan  Standar Proses Pembelajaran Nasional yang berlaku bagi semua guru dalam merencanakan, melaksanakan pembelajaran di sekolah. Dalam standar tersebut disebutkan, bahwa dalam pembelajaran disyaratkan mengacu pada delapan hal pokok, yitu pembelajaran yang inspiratif, interaktif, menantang, menyenangkan, memotivasi, membangun prakarsa, kreativitas dan kemandirian (Lampiran Permendiknas, 2007).

Kalitas pembelajaran yang demikian akan mendorong siswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Dalam konteks seperti itu diperlukan pembelajaran yang dialogis antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan semua warga sekolah. Untuk pembelajaran di kelas dapat diterapkan pembelajaran kooperatif dengan memberikan penguatan pada kegiatan kelompok.

Tujuan pembelajaran, kurikulum, dan sekaligus strateginya harus mengarahkan  ke penciptaan suasana yang  memberikan peluang pada siswa mengalami growth in learning.  Pembelajaran perlu ditata agar menggairahkan  siswa untuk belajar. Pembelajaran tidak lagi dilihat sebagai  upaya menyiapkan anak untuk memasuki masa depan, tetapi sebagi suatu proses agar seseorang berhasil dalam “hidup” kapanpun, di manapun, dan dalam sistuasi apapun. Dengan demikian kinerja output dan outcomes pembelajaran akan menunjukkan kompetensi pengetahuan yang luas dan ditopang oleh kecakapan hidup yang fungsional, seperti sikap beriman, demokratis, terampil, rasa hormat, peduli sosial dan lingkungan, dan sebagainya. Lulusan sekolah yang demikian tidak hanya  berhasil dalam menyelesaikan ujian-ujian disekolah yang beragam, tetapi juga kompeten dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkup keluarga, masyarakat dan negara.

Sebaliknya, sistem pembelajaran yang tidak efektif dapat menimbulkan permasalahan psikologis. Kurikulum pendidikan terlalu berat–hanya cocok bagi sebagian kecil peserta didik, pendidik yang kurang kompeten dalam merancang dan mengimplementasi pembelajaran  akan menimbulkan masalah. Sebagian besar peserta didik mengalami kesulitan dalam menyesuaikan dengan beban kurikulum, selain juga kesulitan dalam mengembangkan potensi lain yang terkait dengan  potensi diri lainnya. Sistem pembelajaran di sekolah seperti itu dapat berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter (Jawa Pos, 2011). Sebab, sejak dini anak-anak justru sudah “diposisikan inferior” rasa percaya dirinya. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan itu akan membentuk pribadi yang kurang percaya diri, dan menimbulkan stress berkepanjangan. Bagi remaja yang tidak mampu mengatasinya, mereka dapat mengalami penurunan kondisi psikis, fisiologis, dan sosial yang menimbulkan permasalahan bagi dirinya. Rasa tidak percaya diri, kegelisahan dan kecemasan, mudah tersinggung dan marah yang tak terkontrol hingga perkelaian, tawuran, mengkonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang hingga terperangkap pornografi  dapat dialaminya.

Pembelajaran geografi yang berlangsung dewasa ini belum mampu memenuhi tuntutan harapan tersebut. Pembelajaran masih cenderung berpusat pada materi, teoritis dan abstrak, berfokus di kelas dengan prosedur ketat, penggunaan  media yang kurang, dan penilain dengan norma. Kondisi seperti itu terjadi karena banyak faktor, antara lain  kompetensi guru geografi yang  masih kurang dalam mengembangkan pembelajaran, memilih pendekatan, strategi belajar dan esesmen (workshop MGMP Guru Geografi Kab Pasuruan, 2010; Purwanto, 2010). Oleh karena itu, salah satu langkah strategis yang perlu dilakukan ke depan adalah mengembangkan model pembelajaran geografi yang dapat merespon kebutuhan tumbuhnya pengetahuan siswa yang luas dan karakter yang matap.

 METODE

Penelitian ini mengunakan rancangan model pengembangan prosedural. Langkah-langkah yang ditempuh untuk menghasilkan produk sebagai berikut. (1) menentukan tujuan dan kebutuhan penyusunan model pembelajaran. (2) mengumpulkan bahan acuan karakteristik pembelajaran geografi, kompetensi mata pelajaran geografi SMA, perkembangan metodologi pembelajaran, karakteristik peserta didik, standar proses pembelajaran, dan niai-nilai karakter. (3) mempelajari materi yang meliputi standar isi mata pelajaran geografi, karakteristik MP Geografi, karakteristik remaja sebagai subyek didik, model-model pembelajaran efektif, inovatif dan kreatif, dan standar proses pembelajaran. Selain itu, juga dipelajari hasil-hasil seminar dan hasil-hasil penelitian pengembangan pembelajaran geografi yang telah dilakukan oleh Dosen Pendidikan Geografi. (4) mengembangkan ide dengan sharing dan brainstorming untuk menghasilkan gagasan kreatif. (5) mendesain pembelajaran untuk menganalisis seluruh materi dan menentukan langkah-langkah dari model pembelajaran geografi untuk penguatan karakter peserta didik. (6) melakukan evaluasi dan revisi sebagai tahap akhir dengan melakukan evaluasi formtif dan evaluasi sumatif. (7) untuk mengumpukan data  sebagai dasar dalam menetapkan tingkat kevalidan model pembejaran geografi untuk penguatan karakter peserta didik dilakukan uji coba.

Kegiatan uji coba dirancang sebagai berikut: (a) Reviu Ahli Pembelajaran untuk mengetahui ketepatan langkah-langkah pembelajaran yang menguatkan karakter peserta didik. Telaah dilakukan oleh 2 (dua) orang ahli, yaitu satu orang ahli dalam pembelajaran geografi, dan satu orang ahli dalam  pendidikan nilai. (b) Uji Coba Lapangan digunakan  utuk merevisi model pebelajaran sebelum digunakan dalam proses pembelajaran.

Subyek uji coba adalah ahli pembelajaran dan mahasiswa calon guru geografi off A semester genap 2010/2011 Prodi Pendidikan Geografi FIS UM. Ahli pembelajaran geografi dipilih Dosen program studi pendidikan geografi yang memiliki kualifikasi S2 dan/atau S3 dalam teknologi pendidikan/ pembelajaran, dan pendidikan nilai atau pendidikan umum.

Instrumen pengumpulan data berupa angket tertutup dan angket terbuka. Angket tertutup digunakan untuk menjaring informasi penilaian, sedangkan angket terbuka untuk menjaring tanggapan ahli pembelajaran  dan audiens.

Analisis Data. Analisis data penelitian dilakukan secara  deskriptif. Data dianalisis menggunakan validasi ahli (expert judgement). Uji validitas dilakukan pada model pembelajaran geografi untuk penguatan karakter oleh validator ahli dalam sintaks model pembelajaran, pelaksana pembelajaran, dan audiens pembelajaran. Validator memberikan penilaian terhadap model pembelajaran geografi untuk enguatan karakter. Semua validator memberikan skor dan saran pada kuesioner yang diberikan kepadanya. Selain itu, validator juga memberikan kesimpulan berupa kevalidan model pembelajaran yang telah diproduksi.  Hasil pemberian skor dan saran akan dianalisis secara deskriptif oleh pengembang. Data kuantitatif dianalisis dengan persentase, dan kriteria kelayakan yang digunakan skor nilai minimal 76%.

 

 

HASIL PENGEMBANGAN

Hasil pengembangan penelitian ini berupa model Pembelajaran Geografi  untuk Penguatan Karakter peserta didik (PGPK) yang meliputi 8 langkah, yaitu:

(1) Menyampaikan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara operasional dan disampaikan pada pembukaan pembelajaran. Contoh tujuan pembelajarannya adalah  menganalisis dampak kerusakan sungai Brantas terhadap pelestarian sumberdaya air yang berkelanjutan.

(2) Melakukan safety moment yang berupa pesan keselamatan. Peserta didik diajak untuk memastikan keselamatan sebelum memulai kegiatan observasi. Misalnya memastikan sepatu yang dipakai aman, tidak berSMS-an sambil berjalan.

(3) Melakukan observasi. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang objek yang diamati.

(4) Komunikasikan dan konfirmasi. Data hasil observasi dikomunikasikan oleh salah satu wakil kelompok, dan dikonfirmasi oleh kelompok yang lain, serta guru.

(5) Mengelaborasi pegetahuan. Elaborasi merupakan langkah untukmemperluas pengetahuan. Misalnya membaca buku, artikel, atau melakukan wawancara dan mendengar media elektronik tentang permasalahan yang menjadi kajian studi.

(6)  Mendiskusikan permasalahan. Berdasarkan data yang telah tekumpul, bahan – bahan yang telah dibaca, peserta didik mendiskusikan permasalahan. Misalnya permasalahan yang disiskusikan adalah  “bagaimana pengaruh kerusakan sungai Brantas terhadap penyediaan air secara berkelanjutan”.

(7) Melakukan tindakan. Berdasarkan solusi hasil diskusi terhadap permasalahan dapat diambil satu atau beberapa solusi praktis untuk diwujudkan dalam tindakan. Misalnya tidak buang sampah di selokan/sungai, melakukan penghijauan.

(8) Membuat kesimpulan dan melakukan refleksi dan tindak lanjut. Setelah ke tujuh  langkah pembelajaran dilakukan, langkah terakhir berupa kesimpulan, refleksi dan tindak lanjut. Kesimpulan dilakukan menyatukan antara hasil observasi, elaborasi, permasalahan, dan tindakan. Refleksi dilakukan dengan menanyakan kepada peserta didik “bagaimana perasaan mereka setelah mengikuti pembelajaran?” dan juga menanyakan rencana tindak lanjut masing-masing peserta didik.

VALIDASI AHLI PEMBELAJARAN

Hasil validasi produk pengembangan berupa: (1) data hasil validasi ahli pembelajaran, dan (2) data hasil validasi audien. Data hasil validasi ahli pembelajaran sebagai berikut.

Tabel  1 Skor Hasil validasi Ahli Pembelajaran

 

No

 

Aspek yang Dinilai

Validator I Validator 2
Skor Keterangan Skor Keterangan
1 Menyampaikan tujuan pembelajaran 2 Valid 2 Valid
2 Melakukan Safety Moment 2 Valid 2 Valid
3 Observasi 2 Valid 2 Valid
4 Komunikasi dan Konfirmasi 2 Valid 2 Valid
5 Elaborasi 1 Revisi 2 Valid
6 Diskusi dan Kesimpulan 1 Revisi 1 Revisi
7 Melakukan tindakan 1 Revisi 2 Valid
8 Refleksi dan tindak lanjut 1 Revisi 1 Revisi

 

Hasil validasi I menunjukkan, bahwa dari 8 (kedelapan) langkah pembelajaran yang divalidasi, terdapat 4 langkah pembelajaran yang memiliki skor 2 atau valid, yaitu langkah penyampaian tujuan pembelajaran, melakukan safety moment, observasi, dan komunikasi dan konfirmasi. Sedangkan 4 langkah pembelajaran yang lain memiliki skor 1 atau revisi, yaitu langkah elaborasi, diskusi dan kesimpulan, melaukan tindakan, revisi dan tindak lanjut. Atas dasar usulan validator pertama dilakukan perbaikan produk pengembangan pada langkah-langkah pembelajaran yang perlu revisi tersebut.

Setelah validasi tahap pertama selesai, produk hasil pengembangan yang telah direvisi, diajukan untuk divalidasi tahap kedua. Hasil validasi tahap kedua menunjukkan, bahwa dari 8 (kedelapan) langkah pembelajaran yang telah divalidasi tahap pertama, terdapat 6 (enam) langkah pembelajaran yang memiliki skor 2 atau valid, yaitu menyampaikan tujuan pembelajaran, melakukan safety moment, observasi, komnikasi dan konfirmasi, elaborasi, dan melakukan tindakan. Sedangkan kedua langkah yang lain memiliki skor 1 atau revisi, yaitu diskusi dan kesimpulan, dan refleksi dan tindak lanjut. Atas usulan validator kedua tersebut dilakukan revisi produk pengembangan pada langkah pembelajaran yang perlu revisi.

Hasil uji coba produk setelah dilakukan validasi produk pengembangan model pembelajaran geografi untuk penguatan karakter peserta didik sebagai berikut.

Tabl 4.2 Skor hasil Uji Coba

No Item Yang Dinilai Skor dan Frekuensi Persentase Keterangan
1 2
1 Perumusan tujuan Pembelajaran 2 32 94,10 Valid
2 Melakukan Safety Moment 3 31 91,17 Valid
3 Observasi 1 33 97,00 Valid
4 Komunikasi dan Konfirmasi 2 32 94,10 Valid
5 Elaborasi 3 31 91,17 Valid
6 Diskusi dan Kesimulan 2 32 94,10 Valid
7 Melakukan Tindakan 2 32 94,10 Valid
8 Refleksi dan Tindak Lanjut 4 30 88,20 Valid

 

Dari 8 (kedelapan) langkah pembelajaran, skor tertinggi sebesar 97%, dan skor terendah 88,20%. Skor tertinggi pada langkah melakukan safety moment dan observasi, dan skor terendah pada langkah penyampaian tujuan pembelajaran, dan refleksi dan tindak lanjut. Skor hasil uji coba tersebut menunjukkan, bahwa secara keseluruhan skor hasil uji coba berada diatas kriteria yang telah ditentukan. Hal itu berarti langkah-langkah pembelajaran dapat diterima oleh peserta didik dan dapat diterapkan oleh pendidik dalam proses pembelajaran.

Analisis data hasil validasi I dan validasi II tertera pada tabel berikut.

Tabel  3 Tindak Lanjut Hasil Validasi

No Skor Item Validasi I Validasi II
Jumlah Item skor akhir  (%) Tindak Lanjut Jumlah Item skor akhir (%) Tindak Lanjut
1 Skor 1 4 75 Revisi berat 6    87,5 Revisi ringan
2 Skor 2 4 2

Masukan validator I, bahwa langkah pembelajaran yang tidak valid tersebut perlu dilakukan revisi. Revisi yang dilakukan, yaitu (1) elaborasi. Dalam kegiatan elaborasi disarankan  agar pengetahuan peserta didik dapat diperluas melalui berbagai sumber, seperti membaca buku teks, media cetak dan elektronik, dan berdiskusi dengan ahli. (2) diskusi dan kesimpulan. Untuk kegiatan diskusi dan kesimpulan disarankan agar langkah ini dapat memastikan setiap peserta didik berkontribusi pendapat atau gagasan. Untuk kesimpulan disarankan dapat berupa item-item kongkret yang dapat ditindaklanjuti dalam tindakan nyata. (3) melakukan tindakan. Untuk tindakan disarankan agar  dapat dibuat perencanaan operasional sebagai acuan di lapangan. (4) refleksi dan tindak lanjut. Untuk refleksi dan tindak lanjut disarankan agar dapat menonjolkan aspek perasaan peserta didik setelah melakukan serangkaian pembelajaran.

Berdasarkan masukan validator II, bahwa langkah pembelajaran yang tidak valid tersebut perlu dilakukan revisi. Revisi yang dilakukan adalah (1) diskusi dan kesimpulan. Kegiatan diskusi dan kesimpulan disarankan agar permasalahan yang didiskusikan merujuk permasalahan nyata yang berdimensi keruangan.  (2) refleksi dan tindak lanjut. Untuk refleksi perlu dibuat instrumen yang memudahkan bagi peserta didik mengungkapkan perasaannya, dan data tersebut dapat digunakan bagi pendidik dalam membantu merumuskan tindak lanjut.

Analisis data hasil uji coba  menunjukkan skor 254 dari 256 atau 87,75%. Mengacu pada kriteria kevalidan sebesar 76%,  maka skor hasil  uji coba lebih besar dari kriteria yang ditetapkan atau 87,75%>76%. Berdasarkan  kriteria kevalidan tersebut, produk pengembangan Model Pembelajaran Geografi untuk Penguatan Karakter tersebut layak digunakan dan tidak perlu dilalukan uji coba ulang.

Tabel 4.4  Tindak lanjut masing-masing Item Data

No Kriteria % Jumlah Item % Tindak lanjut
1 Valid > 76 8 100 Dipakai
2 Tidak Valid <76 0 0

 PEMBAHASAN

 Hasil penelitian pengembangan ini adalah pengembangan model pembelajaran geografi untuk penguatan karakter peseta didik yang terdiri atas delapan langkah, yaitu tujuan pembelajaran, safety moment, observasi, komunikasi dan konfirmasi, elaborasi dan integrasi, diskusi, menarik kesimpulan, refleksi dan tindak lanjut. Ketujuh langkah pengembangan tersebut telah divalidasi dan diuji coba yang hasilnya menunjukkan, bahwa produk pengembangan tersebut layak digunakan dalam pembelajaran geografi di sekolah.

Kelayakan model pembelajaran tersebut dilandasi oleh sejumlah keunggulan.  Ada 8 (delapan) keunggulan PGPK, yakni (1) bertitik tolak dari realita yang kontekstual. (2) mengaktifkan berfikir dan bekerja mandiri. (3) mengembangkan berfikir kritis, (4) mengembangkan kebiasaan berbagi pengetahuan/pengalaman. (5) membangun sikap reflektif untuk perbaikan secara terus menerus. (6) membiasakan bekerja dalam tim.

Keenam keunggulan PGPK tersebut muncul, karena model ini ditopang oleh 4 (empat) pendekatan. Keempat pendekatan tersebut adalah pendekatan pembelajaran holistik, pendekatan pembelajaran kontekstual, pendekatan pembelajaran aktif, dan pendekatan pembelajaran kooperatif. Keempat pendekatan tersebut saling berinteraksi menguatkan model PGPK.

Pertama, PGPK menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran holistik (Holistic Learnig). Prinsip pembelajaran holistik adalah knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good berupa transfer  pengetahuan (kognitif) yang baik. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling and loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi penggerak yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan sehingga tumbuh kesadaran mau melakukan perilaku kebajikan, karena kecintaannya pada perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good yang berupa tindakan-tindakan nyata untuk dibiasakan dalam aktivitas sehari-hari.

Kedua, PGPK menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual (contextual learning). Prinsip pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata, memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, sebagai warga masyarakat dan sebagai tenaga kerja nantinya (US Depsartment of Education and the National School-to-Work Office, 2001). Prinsip pembelajaran kontekstual yang diterapkan dalam PBS antara lain (1) melibatkan siswa untuk mengamati/mengopservasi fenomena realitas kemunduran moral, seperti kekerasan fisik dan psikologis, SMS sambil naik motor yang mengabaikan keselamatan, pornografi dikalangan remaja. (2) memotivasi siswa melakukan tanya jawab dalam kegaiatan komunikasi dan konfirmasi. (3) membangun dan memperluas pengetahuan dengan membaca, diskusi, dan presentasi. (4) melibatkan siswa dalam diskusi untuk membangun komunitas belajar. (5) melakukan penilaian otentik.

Ketiga,  PGPK menerapkan konsep pembelajaran aktif (active learning). Konsep pembelajaran aktif yang digunakan dalam model ini adalah (1) mendorong  siswa bekerja untuk menemukan, memproses dan menerapkan informasi. (2) membelajarkan siswa bekerja sama, bekerja secara tim,  membagi pekerjaan, dan membangun pandangan umum (Kinney, 2007 dalam Bogart, 2009; Silberman, 2010). Penerapan pembelajaran aktif dalam PGPK, antara lain: (1) mendorong siswa melakukan observasi untuk mengumpulkan informasi kemerosotal moral, menganalisis informasi kemerosotal moral yang diperolehnya, dan menerapkannya secara individu atau berkelompok. (2) melibatkan siswa untuk bekerja secara tim dalam melakukan telaah terhadap informasi kemerosotan moral. (3) membangun perspektif baru melalui kegiatan diskusi/pembahasan masalah moral.

Keempat, PGPK menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif  (cooperative learning). Prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif adalah (1) saling ketergantungan positif, (2) taggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, (5) evaluasi proses kelompok (Roger dan Johnson dalam  Lie, 2002; Slavin, 2005; Kagan dalam Sutjipto, 2011). Prinsip pembelajaran kooperatif yang diterapkan dalam PBS, antara lain (1) menciptakan interaksi antar siswa untuk menyelesaikan tugas bersama. (2) menguatkan tanggung jawab perseorangan dalam kegiatan elaborasi pengetahuan.  (3) memfasilitasi siswa melakukan tatap muka dalam kelompok dan kelas untuk menelaah permasalahan kemerosoran moral. 4) melibatkan siswa mengkomunikasikan hasil pengematannya dalam kegiatan komunikasi dan konfirmasi.

Dengan demikian PGPK merupakan model pembelajaran baru dalam pembelajaran geografi untuk penguatan karakter peserta didik yang dikembangkan berlandaskan pembelajaran kontekstual, pembelajaran aktif, pembelajaran kooperatif, dan pembelajaran holistik.

 

PGPK  UNTUK MENUMBUHKANKAN  NILAI KARAKTER PENOPANG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Dalam kurikulum mata pelajaran geografi SMA terdapat dua kompetensi berkenaan langsung dengan pembangunan berkelanjutan, yaitu (1) mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan. (2) menganalisis pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan.

Mengacu pada model PGPK, kegiatan pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk kompetensi dasar tersebut adalah:

  1. Menyampaikan tujuan pembelajaran. Contoh tujuan pembelajarannya adalah  menganalisis dampak kerusakan sungai brantas terhadap pelestarian sumberdaya air yang berkelanjutan.
  2. Melakukan safety moment yang berupa pesan keselamatan. Peserta didik diajak untuk memastikan keselamatan sebelum memulai kegiatan observasi. Misalnya memastikan sepatu yang dipai tidak membahayakan untuk observasi.
  3. Melakukan observasi. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang objek yang diamati. Misalnya observasi pencemaran sungai Brantas.
  4. Komunikasikan dan konfirmasi. Misalnya data hasil observasi dari sungai brantas dikomunikasikan oleh salah satu wakil kelompok, dan dikonfirmasi oleh kelompok yang lain, serta guru.
  5. Mengelaborasi pegetahuan. Untuk memperluas dan mendalami pengetahuan tentang pencemaran air sungai, brantas peserta didik perlu memperluas wawasannya dengan membaca buku, artikel atau melakukan wawancara dan mendengar media elektronik tentang permasalahan yang menjadi kajian studi.
  6.  Mendiskusikan permasalahan. Berdasarkan data yang telah tekumpul, bahan – bahan yang telah dibaca, peserta didik mendiskusikan permasalahan. Misalnya permasalahan yang disiskusikan adalah  “bagaimana pengaruh kerusakan sungai brantas terhadap penyediaan air secara berkelanjutan”.
  7. Melakukan tindakan. Berdasarkan solusi hasil diskusi terhadap permasalahan dapat diambil satu atau beberapa solusi praktis untuk diwujudkan dalam tindakan. Misalnya tidak buang sampah di selokan/sungai, melakukan penghijauan. Berpartisipasi dalam gerakan kali bersih.
  8. Membuat kesimpulan dan melakukan refleksi dan tindak lanjut. Kesimpulan dilakukan menyatukan antara hasil observasi, elaborasi, permasalahan, dan tindakan. Refleksi dilakukan dengan menanyakan kepada peserta didik “bagaimana perasaan mereka setelah mengikuti pembelajaran?” Dan juga menanyakan rencana tindak lanjut masing-masing peserta didik.

Penerapan PGPK untuk kedua kompetensi yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan akan menumbuhkan nilai-nilai karakter berpikir kritis, pemecahan masalah, bertindak secara nyata, dan peduli lingkungan. Nilai-nilai karakter tersebut diperlukan keberadaannya untuk menopang pembangunan berkelanjutan.

Ada empat tahap aktivitas belajar dalam model PGPK yang  berkontribusi pada kemampuan berpikir kritis terhadap permaslahan lingkungan dalam kaitan pembangunan berkelanjutan. Keempat kegiatan belajar itu adalah observasi, konfirmasi, elaborasi dan diskusi. Keterlibatan siswa dalam observasi suatu objek dapat membekali pengetahuan tentang fakta dan permasalahan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan siswa dalam konfirmasi akan membekali konsep-konsep yang benar tentang pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan siswa dalam elaborasi akan memperluas wawasan siswa tentang permasalahan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan siswa dalam diskusi akan membekali kemampuan berpikir alternatif terhadap permasalahan lingkungan dan berkelanjutan.

Ada tiga kegiatan belajar dalam model PGPK yang berkontribusi pada kemampuan pemecahan masalah terhadap masalah lingkungan dalam kaitan dengan pembangunan berkelanjutan. Kegaiatan tersebut adalah observasi, elaborasi, dan diskusi. Melalui ketiga kegiatan belajar tersebut siswa dapat mengidentifikasi permasalahan, merumuskan permasalahan, dan mendiskusikan alternatif pemecahan masalah dalam kaitan pembangunan berkelanjutan.

Ada satu kegiatan PGPK yang signifikan dalam perubahan lingkungan menuju pembangunan berkelanjutan secara nyata, yakni bertindak secara nyata terhadap permasalahan lingkungan dalam kaitan pembangunan berkelanjutan. Tindakan nyata tersebut dapat berupa aksi-aksi individu maupun kolektif untuk perbaikan lingkungan, seperti hemat air dan energi; melakukan reuse dan recycle terhadap sampak, dan  menanam pohon.

Peduli lingkungan merupakan sikap dan perilaku yang sangat diperlukan di tengah kemunduran kualitas lingkungan yang semakin cepat dan meluas ini. Keterlibatan siswa dalam menemukan dan mengidentifikasi permasalahan, mencari alternatif pemecahan terhadap permasalahan yang ditemukan, memutuskan alternatif pemecahan, dan bertindak secara nyata untuk memecahkan permasalahan akan membangun sikap dan perilaku yang peka terhadap permasalahan lingkungan di sekitar kehidupan siswa.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengembangan diperoleh produk berupa model Pembelajaran Geografi untuk Penguatan Karakter Peserta Didik (PGPK) yang terdiri atas delapan langkah pembelajaran, yaitu  penyampaian tujuan pembelajaran, melakukan safety moment, melakukan obsevasi, komunikasi dan konfirmasi, elaborasi, diskusi dan kesimpulan, melakukan tindakan, dan refleksi dan tindak lanjut. Model Pembelajaran tersebut relevan untuk diterapkan dalam menembuhkembangkan kompetensi siswa dalam mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan hidup dan pelestarian lingkungan dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan. Nilai-nilai karakter yang dapat ditumbukembangkan dengan penerapan model pembelajaran tersebut adalah  berpikir kritis, pemecahan masalah, bertindak secara nyata, dan peduli lingkungan. Penguatan nilai-nilai karakter tersebut dalam pembelajaran dapat menjadi penopang bagi perwujudan pembangunan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Hasil refleksi MGMP Geografi Kab Pasuruan 2010. Pembelajaran Geografi Terkini.

Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tanggal 23 mei 2006 tantang Standar isi.

Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo

Mangunsong, F.2010. Sambutan ketua APPI Pusat. Pidato. Disajikan dalam Konferensi Nasional dalam Workshop Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia: peran Pendidikan dalam Pembangunan Karakter Bangsa di Malang 16 Oktober 2010.

MGMP Geografi Kab Pasuruan. 2010. Pembelajaran Geografi Terkini. Workshop. Diselengarakan di SMAN 1 Pandaan  tanggal 23 September 2010.

Nuh, M.2010. Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Memecahkan Permasalahan kemorosotan Moral Bangsa. Apa Kabar Indonesia. TV One 17 Juni 2011

Purwanto, 2010. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Dasajikan dalam rapat senat terbuka di Universitas Negeri Malang pada

Jawa Pos, 14 Pebruari 2011. Pendidikan Karakter semakin tercerabut. hal 42

Slavin,  Robert E. 1995. Cooperative Learning Theory, Research and Practice. Edisi 4. Boston: Penguin Book Ltd.

Sudrajat, A. 2010. Tentang Pendidikan Karakter. http:/akhmad Sudrajat wordpress.com/2010/06/12/pendidikan karakter-di-smp/

Suyanto, 2008. Pendidikan karakter untuk anak bangsa kini dan ke depan. Makalah. Disajikan pada seminar pendidikan

Soetjipto, Budi Eko. 2011. Model-Model Pembelajaran Kooperatif Versi Kagan. Makalah. Disajikan dalam Seminar Nasional Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia (HISPISI), Jurusan Manajemen FE UM, Batu, 26-27 Januari.

University of Washington College of Education. 2001. Training for Indonesian

              Educational Team in Contextual Teaching and Learning. Seattle. Washington, USA.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s