REVITALISASI PENDIDIKAN GEOGRAFI DALAM LATAR SEKOLAH ADI WIYATA DAN KURIKULUM 2013 UNTUK MENUMBUHKEMBANGKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN

Budi Handoyo

Jurusan Geografi FIS UM

E- mail: budi.handoyo78@yahoo.com

ABSTRAK: Dewasa ini kerusakan lingkungan makin meluas dan menyentuh aspek fisik serta moral masyarakat. Kerusakan air, udara, tanah, dan hutan akibat perilaku manusia secara langsung maupun tidak langsung telah terbukti berdampak buruk bagi kehidupan manusia itu sendiri. Karena itu,  solusi mendasar, sistemik, dan berkelanjutan diperlukan agar kerusakan tersebut dapat dicegah tidak semakin meluas dan tak terkendali.

Sekolah Adi Wiyata dan Kurikulum 2013 merupakan wahana dan sistem yang penting dalam pengembangan karakter peduli lingkungan untuk mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut. Sistem pendidikan dalam sekolah Adi Wiyata membelajarkan siswa secara holistik tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap lingkungan, selain juga menjadi gerakan peduli lingkungan yang melibatkan seluruh stakeholders sekolah: siswa, guru, tenaga administrasi, orang tua, serta masyarakat sekitar. Kurikulum 2013 menempatkan kepedulian—lingkungan sebagai kompetensi inti (KI 2) yang harus diimplementasi dalam pembelajaran secara vertikal dan horizontal. Dengan demikian sekolah dapat menjadi wahana dan sistem yang nyaman dan dinamis bagi siswa untuk megembangankan good knowing, good filling, dan good acting tentang lingkungan hidup.

Pendidikan geografi bertujuan untuk mengembangkan kearifan siswa dalam pengelolaan sumber daya alam, toleransi pada keragaman budaya, dan peduli lingkungan. Karena itu, untuk menumbuhkem-bangkan karakter peduli lingkungan dalam latar sekolah Adi Wiyata, pendidikan geografi dapat mengambil peran yang lebih konkret, yaitu melakukan revitalisasi aspek perencanaan pembelajaran, strategi dan model pembelajaran, bahan ajar, dan penilaian. Performansi pendidikan geografi kedepan diharapkan dapat ditampilkan dengan perencanaan pembelajaran yang lebih mencerdaskan; strategi/model pembelajaran yang lebih aktif, kooperatif, dan kontekstual (ACTUAL); bahan ajar yang lebih kontekstual dan spsial; dan penilaian yang lebih otentik.

Kata Kunci: Pendidikan Geografi, Sekolah Adi Wiyata, dan Peduli Lingkungan

Pendidikan geografi memiliki peran dan tujuan yang strategis dalam menumbuhkembangkan karakter peduli lingkungan. Secara ideal hal itu tertuang pada salah satu tujuan pendidikan geografi, yaitu menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup (Permendiknas, 23/2006). Tujuan pendidikan geografi yang demikian mendapat ”dukungan” dengan adanya sekolah adi wiyata, sebab sekolah dengan konsep adiwiyata bertujuan menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga dikemudian  hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah di Indonesia.

Pembelajaran geografi yang berlangsung dewasa ini belum mampu mendayagunakan potensi sekolah adi wiyata tersebut. Pembelajaran masih cenderung berpusat pada materi, teoritis dan abstrak, berfokus di kelas dengan prosedur ketat, penggunaan  media yang kurang, dan penilain dengan norma. Kondisi seperti itu terjadi karena belum ada persepsi yang sama tentang nilai-nilai karakter pendidikan geografi, bagaimana mengukur dan menindaklanjuti dari hasil pengukuran tersebut, serta implikasinya pada rapor siswa.

Pendidikan Geografi: Tujuan dan Nilai-Nilai Karakternya

Pendidikan geografi memiliki cakupan yang luas dan berkembang dari waktu ke waktu. Pendidikan geografi merupakan suatu disiplin ilmu yang dilandasi oleh ranah pendidikan dan geografi (Reinfried, tanpa tahun). Pendidikan geografi merupakan konsep yang kompleks yang dapat dipahami dalam kaitan dengan ilmu geografi, tujuan secara detail, penjelasan posisinya pada pendidian formal dan in formal, dan berkenaan dengan komponen esensialnya  (Gerber, tanpa tahun dalam Handoyo, 2012).

Secara luas tujuan pendidikan geografi adalah mengembangkan geographical knowledge, skills, dan attitudes and values (The International Charter on Georap-hical Education/ICGE dalam Gerber, 2001). Geographical knowledge berkenaan dengan lokasi dan tempat, sistem alam–interaksi ekosistem, sistem sosioekonomi, keragaman masyarakat dan sosial, struktur dan proses di suatu wilayah,  dan keterkaitan global. Skills berkenaan dengan proses berpikir yang memerlukan pemecahan masalah dan membuat keputusan spasial; penggunaan komunikasi verbal, kuantitatif, bentuk simbul data: grafik, teks, tabel, diagram, peta, dsb; keteram-pilan fisik-praktis—yang berkaitan dengan studi lapangan. Attitudes and values berkenaan dengan minat dan rasa ingin tahu terhadap fenomena alam dan manusia; menghargai bentang alam dimana penduduk tinggal;   empati pada perbedaan keondisi kehidupan masyarakat; hormat pada kebenaran dan kesamaan.

Menurut Asosiasi Geograf Inggris, bahwa tujuan pendidikan geografi adalah:  

(1) to develop in young people a knowledge and understanding of the place they live in, of other  people and places, and of how people and places inter-relate and interconnect; of the significance of location; of human and physical environments; of people-environment relationships; and of the causes and consequences of change, (2) to develop the skills needed to carry out geographical study, e.g. geographical enquiry, mapwork and fieldwork. (3) to stimulate an interest in, and encourage and appreciation of the world around us, and (4) to develop an informed concern for the world around us and an ability and willingness to take positive action, both locally and globally.”

Secara ringkas dapat dikatakan, bahwa tujuan pendidikan geografi adalah menyediakan orang yang berpengetahuan geografi, yaitu  memahami sistem ling-kungan fisik dan manusia yang saling berkaitan dan masyarakat dan tempat tinggalnya  berinteraksi. Dengan demikian pendidikan geografi  tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang dunia dan  pengembangan skills geografi dasar, tetapi juga berkomitmen untuk menumbuh-kembangkan kepribadian dan penguatan sikap  untuk partisipasi penuh dalam kehidupan yang dewasa dan masyarakat.  Hal itu juga mencakup pembahasan isu-isu etika, nilai, keadilan, dan moralitas (International Geographical Union Commission on Geographical  Education dalam Reinfried, tanpa tahun).  Masalah itu berkenaan dengan  kepentingan dunia dan perbedaan budayanya,  peduli terhadap lingkungan fisik dunia yang indah dan kondisi kehidupan yang berbeda, kualitas lingkungan dan alam, dan habitat manusia, evaluasi yang cerdas pada masalah kini,  dedikasi untuk berkontribusi pada pemecahan masalah, perasaan simpati pada masyarakat  dan cara-cara hidup yang berbeda  dan menghargai hak asasi manusia (Haurbrich, 2006).   

Kecenderungan pendidikan di abad XXI ini ini berkenaan dengan  konsep geografi terpadu (integrative)  yang digunakan dalam proses pendidikan  dan ber-fikir kritis,  pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan,  informasi dan teknologi (ICT). Siswa perlu bertindak sebagai warga negara yang bertanggung jawab berkenaan dengan isu-isu kunci yang kompleks, yaitu lingkungan, sosial, budaya, ekonomi dan politik.  Pendidikan geografi merupakan suatu bidang  pendidikan yang mengajarkan siswa tinking skills (keterampilan berpikir) yang diperlukan untuk memahami  dan bertindak secara berkelanjutan di dunia. Tanpa geografi, anak-anak muda tidak siap untuk masa depan yang global. Oleh karena itu, pada era dewasa ini konsep pendidikan geografi dipengaruhi oleh  empat parameter utama, yaitu nilai-nilai umum yang berlaku dalam sistem sekolah, konsep pengetahuan geografi, konsep pembelajaran, dan epistimologi  ilmu pengetahuan (Hertig dan Varcer, 2004). Oleh karena itu geografi pada sekolah dasar dan sekolah menengah berperan penting dalam menyiapkan  peserta didik yang terampil berpikir kritis dalam rangka memahami dunia. Dengan keterampilan berpikir kritis tersebut peserta didik dapat meneliti dan menjawab pertanyaan yang berkaitan  dengan hubungan timbal balik antara masyarakat dengan ruang dan hubungan timbal balik anara masyarakat yang berbeda-beda ke seluruh ruang.

Di Indonesia tujuan pendidikan geografi dapat ditemuai pada standar isi mata pelajaran geografi yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP, 2006),  tujuan mata pelajaran geografi adalah: (1). Memahami pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan. (2). Menguasai keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi. (3). Menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat.

Tujuan tersebut tidak hanya mencakup aspek kognitif berupa pengetahuan peserta didik tentang pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan,  tetapi juga mencakup aspek psikomotorik yang berupa keterampilan untuk memperoleh, mengkomunikasikan, dan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya, serta  cakupan aspek afektif yang berupa kepedulian pada lingkungan dan toleransi terhadap keragaman budaya tempat siswa berada.

Berdasarkan tujuan pendidikan geografi sebagaiman diuraikan, setidaknya terdapat tujuh nilai karakter yang terkadung pada pendidikan geografi. Ketujuah nilai tersebut adalah arif, peduli, toleran, kreatif, kritis, cerdas, dan tanggung jawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi dan ekologis. Arif berarti peserta didik dapat menggunakan nilai-nilai universal maupun lokal untuk menyelesaikan permasalahan, peduli berarti memiliki perhatian dan komitmen terhadap maslah ekologi dan social yang terjadi dan turut serta memecahkannya, toleran berarti dapat mengakui-menghormati-menghargai keragaman budaya dalam masyarakat, kritis berarti dalam mengidentifikasi masalah dan gagasan-gagasan pemecahannya. Cerdas berarti peserta didik dapat memecahkan masalah-masalah di lingkungannya. Tanggung jawab berarti ada keberanian untuk mengambil keputusan dan siap menanggung resiko yang yang terjadi atas keputusannya. Dengan demikian pembelajaran geografi yang ideal dapat mengembangkan pemahaman peserta didik tentang kegeografian-termasuk lingkungan dan memupuk sikap aktif, kretif, kritis, cerdas, arif dan tanggung jawab terhadap masalah-masalah kegeografian dan lingkungan tersebut.

Dari ketujuh nilai karakter pendidikan geografi tersebut, terdapat tiga nilai karakter utama, yaitu arif dalam penggunaan sumber daya alam, peduli lingkungan, dan toleran terhadap keragaman budaya, dan empat nilai karakter pendukung, yaitu kritis, kreatif, cerdas, dan tanggung jawab. Dalam implementasi pembelajaran, sebaiknya mengacu pada nilai karakter utama, tanpa meninggalkan nilai karakter pendukung. Dengan demikian pembelajaran geografi diharapkan dapat menumbuhkembangkan kemampuan peserta didik agar menjadi sosok dengan berkualifikasi (1) berpengatahuan luas dan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan. (2) memiliki kepedulian yang tinggi pada masalah-masalah lingkungan hidup, sosial, dan budaya. (3) memiliki sikap dan perilaku pro aktif terhadap perubahan informasi geografis. (5) memiliki sikap yang toleran terhadap keragaman budaya. (6) mampu mengkomunikasikan informasi geografis dengan baik. (7) memiliki kesadaran untuk perbaikan secara terus menerus atas kekuran yang dimilikinya.

Sekolah Adi Wiyata, Pendidikan Karakter dan Permasalahannya di Sekolah

Adiwiyata berasal dari kata adi dan wiyata. Adi berarti besar, agung, baik, ideal atau sempurna, dan wiyata berarti tempat dimana seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan, norma dan etika (Silvian, 2012). Adiwiyata merupakan salah satu program Kementrian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapakan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta menghindari dampak lingkungan yang negatif.

Tujuan Program Adiwiyata adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga dikemudian  hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah di Indonesia. Program Adiwiyata harus berdasarkan norma-norma Kebersamaan, Keterbukaan, Kejujuran, Keadilan, dan Kelestarian  Fungsi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam. Secara umum tujuan program adiwiyata membentuk sekolah peduli dan berbudaya lingkungan yang mampu berpartisipasi dan melaksanakan upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan  bagi kepentingan generasi sekarang maupun yang akan datang. Secara khusus program adiwiyata bertujuan mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan melalui tata kelola sekolah yang baik untuk untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Dalam implementasinya, ada dua prinsip yang diacu dalam konsep adi wiyata, yaitu: (1) Prinsip Partisipatif. Dalam prinsip ini keberadaan komunitas sekolah dilibatkan dalam fungsi manajemen sekolah yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan  dan evaluasi sesuai dengan status dan fungsi masing-masing. (2) Prinsip Berkelanjutan. Dalam prinsip ini semua stake holders harus menyadari dan mengupayakan kegiatan dilakukan secara terus menerus dan komprehensif., artinya seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus dan komprehensif.

Keuntungan yang diperoleh sekolah mengikuti program Adiwiyata: (1) meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan operasional sekolah dan penggunaan berbagai sumber daya. (2) meningkatkan penghematan sumber daya dan energi. (3) meningkatkan kondisi belajar mengajar yang lebih nyaman dan kondusif bagi semua warga sekolah. (4) menciptakan kondisi kebersamaan bagi semua warga sekolah. (5) meningkatkan upaya menghindari berbagai resiko dampak lingkungan negatif dimasa yang akan datang. (6) menjadi tepat pemebelajaran bagi generasi muda tentang nilai-nilai pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan benar. (7) mendapatkan program Adiwiyata. (8) mendukung  pencapaian standar kompetensi/ kompetensi dasar dan standar kompetensi lulusan (SKL) pendidikan dasar dan menengah. (9) meningkatkan efesiensi penggunaan dana operasional sekolah melalui penghematan dan pengurangan konsumsi dari berbagai sumber daya dan energi. (10) menciptakan kebersamaan warga sekolah dan kondisi bejar mengajar yang lebih nyaman dan kondusif. (11) menjadikan tempat pembelajaran nilai-nilai pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan bemar bagi warga sekolah dan masyarakat sekitar. (12) meningkatkan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui kegiatan pengendalian pencemaran, pengendalian kerusakan dan pelestarian fungsi lingkungan sekolah

Kekuatan sekolah Adi Wiyata yang demikian besar dapat menjadi wahana strategis bagi implementasi pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik  atau loving good  (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action).  Pendidikan karakter menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan.

Dalam buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025 juga dipaparkan tujuan, fungsi dan media pendidikan karakter. Pendidikan karakter bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Fungsi pendidikan karakter adalah (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) memperkuat  dan membangun perilaku bangsa yang multikultur;  (3) meningkatkan peradaban bangsa yang kompe-titif dalam pergaulan dunia.

Lickona (1992), ahli pendidik karakter dari Cortland University dikenal sebagai Bapak Pendikar Amerika yang menerapkan idenya pada tingkat pendidikan dasar & menengah. Pendidikan karakter mencakup: (1) moral knowing (pengetahuan tentang moral); (2) moral feeling (perasaan tentang moral), dan (3) moral action (perbuatan moral atau act morally). Sacara detail cakupan pendidikan karakter sebagai berikut.

Tabel 1 Aspek Pendidikan Karakter

Moral Knowing

Moral Felling

Moral Action

Moral awareness Conscience (nurani) Competence
Knowing moral values Self- esteem (percaya diri Will (keinginan )
Perspective taking Empathy (merasakan penderitaan orang lain) Habit (kebiasaan )
Moral reasoning Loving the good (mencintai kebenaran)
Decision making Self-control (mampu mengontrol diri)
Self-knowledge

Pendidikan karakter (PK) merupakan pendidikan budi pekerti plus. PK melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Penerapan PK secara sistematis dan berkelanjutan menjadikan  seorang anak cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini akan menjadi bekal penting dalam mempersiapkan anak/remaja  menyongsong masa depan. Sebab, Seseorang yang cerdas emosi akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan akademis di sekolah.

Tujuan PK tersebut seiring dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter—diharapkan lahir generasi bangsa dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama (Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003).

Untuk mewujudkan pendidikan karakter yang efektif di sekolah, terdapat 11 prinsip (Lickona dkk, 2007), yaitu:

(1)  kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya. (2) definisikan ‘karakter’ secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku. (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter. (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian. (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral. (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil. (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa. (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa. (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter. (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter. (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.

Sebagai kerangka kerja, dalam PK penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti/utama dan nilai-niai karakter pendudkung. Nilai karakter utama tersebut antar alain berupa keimanan, kejujuran, rasa hormat, kepedulian. Nilai-nilai karakte pendukung berupa  komitmen, kesungguhan, ketekunan dan kegigihan–sebagai basis karakter yang baik.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan di sekolah adalah: (1) Sekolah berkomitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai dimaksud. (2) mendefinisikan karakter dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari. (3) mencontohkan nilai-nilai karakter, mengkaji dan mendiskusikannya, meng-gunakannya sebagai dasar dalam hubungan antar warga sekolah. (4) mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat. Hal terpenting, semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti.

Siswa memahami nilai-nilai inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model dan mempraktekkan pemecahan masalah yang meli-batkan nilai-nilai. Siswa belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengem-bangkan keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup. Dalam konteks seperti itu diper-lukan pembelajaran yang dialogis antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan semua warga sekolah. Untuk pembelajaran di kelas dapat diterapkan pembelajaran kooperatif dengan memberikan penguatan pada kegiatan kelompok.

Untuk mewujudkan PK secara komprehensif di sekolah dapat dilakukan pendekatan yang sistemik dengan melibatkan semua komponen sekolah. Kompenen tersebut mencakup: (1) kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), seperti upacara dan prosedur sekolah; keteladanan guru; hubungan siswa dengan guru, staf sekolah lainnya, dan sesama mereka sendiri; proses pembelajaran; keanekaragaman siswa; penilaian pembelajaran; pengelolaan lingkungan sekolah; kebijakan disiplin. (2) kurikulum akademik (academic curriculum) seperti mata pelajaran inti, dan program-program ekstrakurikuler (extracurricular programs) seperti olahraga, klub, proyek pelayanan, dan kegiatan-kegiatan setelah jam sekolah.

Di samping itu, sekolah dan keluarga perlu meningkatkan efektivitas kemitraan dengan merekrut bantuan dari komunitas yang lebih luas (bisnis, orga-nisasi pemuda, lembaga keagamaan, pemerintah, dan media) dalam mempromosikan pembangunan karakter. Kemitraan sekolah-orang tua ini dalam banyak hal sering kali tidak dapat berjalan dengan baik, karena terlalu banyak menekankan pada penggalangan dukungan finansial, bukan pada dukungan program.

Dalam implementasinya,  pendidikan karakter  disekolah secara umum masih menghadapi kendala. Menurut Handoyo (2012) ada enam kendala yang dihadainya, yaitu: (1) nilai-nilai karakter yang dikembangkan di sekolah belum terjabarkan dalam indikator yang representatif. Indikator yang tidak representatif dan baik tersebut menyebabkan kesulitan dalam mengungukur ketercapaiannya.  (2) Sekolah belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan visinya. Jumlah nilai-nilai karakter demikian banyak, baik yang diberikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun dari sumber-sumber lain. Umumnya sekolah menghadapi kesulitan memilih nilai karakter mana yang ssuai dengan visi sekolahnya. Hal itu berdampak pada gerakan membangun karakter di sekolah menjadi kurang terarah dan fokus, sehingga tidak jelas pula monitoring dn penilaiannya. (3) Pemahaman guru tentang konsep pendidikan karakter yang masih belum menyeluruh. Jumlah guru di Indonesia yang lebih 2 juta merupakan sasaran program yang sangat besar. Program pendidikan karakter belum dapat disosialisaikan pada semua guru dengan baik sehingga mereka belum memahaminya. (4) Guru belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Selain nilai-nilai karakter umum, dalam mata pelajaran juga terdapat nilai-nilai karakter yang perlu dikembangkan guru pegampu. Nilai-nilai karakter mata pelajaran tersebut belum dapat digali dengan baik untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran. (5) Guru belum memiliki kompetensi yang memadai untuk mengintegrasikan nilai-niai karakter pada mata pelajaran yang diampunya. Program sudah dijalankan, sementara pelatihan masih sangat terbatas diikuti guru menyebabkan keterbatasan mereka dalam mengintegrasikan nilai karakter pada mata pelajaran yang diampunya. (6) Guru belum dapat menjadi teladan atas nilai-nilai karakter yang dipilihnya. Permasalahan yang paling berat adalah peran guru untuk menjadi teladan dalam mewujudkan nilai-nilai karakter secara khusus sesuai dengan nilai karakter mata pelajaran dan nilai-nilai karakter umum di sekolah.

Revitalisasi Pendidikan Geografi dalam Menumbuhkembangkan Nilai Peduli Lingkungan dalam Latar Adi Wiyata untuk Kurikulum 2013

Sebagimana diuraikan pada pembahasan awal, bahwa salah satu permalahan mendasar lingkungan adalah kepedulian setiap individu—termasuk siswa terhadap lingkungan yang kurang.  Kepedulian lingkungan tersebut sebenarnya merupakan salah satu isu global penting di abad 21 ini. Isu kepedulian itu muncul sebagai dampak kerusakan lingkungan yang semakin meluas dan mengkawatirkan masa depan umat manusia (Lamijan, 2011; Arjana, IGB. 2010). Kerusakan lingkungan telah menyentuh aspek mendasar sebagai dampak dari kesalahan dalam memandang hubungan antara manusia dengan lingkungan. Paradigma Antroposentris telah menjadikan lingkungan sebagai obyek yang perlu diekspoatasi sebesar-besarnya, tanpa memperhatikan keberlanjutannya. Cara hidup yang “antroposian”  terbukti mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan. Fenomena global warming dan climate change yang berakibat pada peningkatan suhu udara, curah hujan yang tidak pasti, banjir semakin besar, kemerosotan produksi pertanian dan ancaman penyakit mematikan merupakan masalah terbesar bagi umat manusia di masa mendatang.

Pendidikan geografi memiliki peran strategis dalam peningkatan kepedulian lingkungan hidup yang  sedang mengalami kemerosotan berat dewasa ini. Peran strategis tersebut tertuang dalam latar belakang dan tujuannya. Salah satu latar belakang menyebutkan, bahwa  ”pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperoleh dalam mata pelajaran geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap, bertindak cerdas, arif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi masalah ekologis”, dan tujuan pendidikan geografi adalah  ”menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif” (Permendiknas, 22 tahun 2006).

Untuk meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan dalam pembelajaran geografi di sekolah bukan hal yang mudah. Peningkatan kepedulian tersebut bersifat kompleks, karena terkait dengan kehidupan siswa di lingkungan sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Kehidupan sekolah yang berpengaruh pada kepedulian siswa terhadap lingkungan terlihat pada visi dan komitmen sekolah dalam memfasilitasi guru geografi dan siswa dalam mengefektifkan pembelajaran geografi yang terkait dengan masalah lingkungan, seperti operasionalisasi pendekatan spasial, kelingkungan, dan kompleks wilayah; pengloaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan. Kehidupan keluarga yang berpengaruah pada kepedulian lingkungan berupa pembiasaan-pembiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari, seperti  hemat air dan energi, menghijaukan lingkungan sekitar, membuat bio pori di halaman. Kehidupan masyarakat yang berpengaruh pada kepedulian lingkungan berupa atmosfer masyarakat yang perhatian terhadap gerakan peduli lingkungan, seperti gerakan Malang Hijau Royo Royo yang menanam beragai jenis pohon di area kota (Batu TV, 2012). Gerakan kepedulian  lingkungan dalam bentuk lain juga muncul di berbagai daerah dalam bentuk penurunan emisi gas Karbon melalui  program  Car Free Day, taman kota, seperti yang dilakukan di Surabaya, DKI, Semarang, Surakarta, Malang, dan di kota-kota lainnya. Oleh karena itu pendidikan geografi kedepan juga perlu dikembangkan keaarah pendidikan in formal dalam keluarga dan masyarakat.

Dalam konteks peran pembelajaran geografi di sekolah, terdapat dua faktor  pendorong yang sangat menguntungkan bagi peningkatan peran pendidikan geografi dalam menumbuhbuhkembangkan kepedulian lingkungan. Pertama, kehadiran Sekolah Adi Wiyata yang memiliki prinsip partisipatif dan keberlanjutan. Sekolah Adi Wiyata bertujuan menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga dikemudian  hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan lingkungan dengan mendasarkan pada norma kebersamaan, keterbukaan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian  fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam. Secara umum tujuan program Adiwiyata membentuk sekolah peduli dan berbudaya lingkungan yang mampu berpartisipasi dan melaksanakan upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan  bagi kepentingan generasi sekarang maupun yang akan datang. Secara khusus program adiwiyata bertujuan mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan melalui tata kelola sekolah yang baik untuk untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Kekuatan sekolah Adi Wiyata yang demikian besar dapat menjadi wahana strategis bagi implementasi pendidikan geografi untuk pengembangan kepedulian lingkungan. Pendidikan geografi bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi lebih dari itu, pendidikan geografi dapat menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan geografi yang baik harus melibatkan aspek ”pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga ”merasakan dengan baik (loving good/moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action).  Pendidikan geografi juga menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan.

Kedua, kurikulum 2013. Kerikulum ini dikembangkan dengan motivasi yang kuat agar permasaahan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, salah satu diantaranya kerusakan lingkungan dapat teratasi secara mendasar dan berkelanjutan. Ada empat perubahan yang dilakukan, yaitu perubahan standar kelulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian.

Dalam standar isi dikenal 4 kompetensi inti (KI) yang berisi nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam pembelajaran, yaitu nilai spiritual, sosial, pengetahuan, dan penerapan pengetauan/keterampilan. Kompetensi inti tersebut memiliki kedudukan yang strategis, karena berfungsi menjadi pengikat bagi kompetensi dasar secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal mengikat kompetensi dasar satu dengan kompetensi dasar berikutnya, dan secara horizontal mengikat kompetensi dasar mata pelajaran satu dengan mata pelajaran lain (Kementerian P dan K, 2013).

Salah satu nilai karakter dalam kompetensi inti sosial (KI 2) adalah nilai peduli-termasuk peduli terhadap lingkugan. Nilai peduli ini mengikat kompetensi dasar untuk diwujudkan dalam pembelajaran geografi secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal, nilai kepedulian lingkungan ini perlu diaktualisasikan dalam pembelajaran pada kompetensi dasar yang relevan dari kelas X, XI, dan Kelas XII. Secara horizontal, nilai peduli lingkungan ini juga perlu diaktualisasikan dalam pembelajaran mata pelajaran lain. Dengan demikian siswa memperoleh akses yang besar untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai komitmen kepedulian lingkungan secara mendalam dan terintegrasi dengan mata pelajaran lainnya.

Untuk itu pendidikan geografi di sekolah perlu melakukan revitalisasi dengan melakukan perubahan yang lebih signifikan terhadap paradigma pembelajaran, strategi, model, bahan ajar, dan penilaiannya. Performansi pendidikan geografi kedepan diharapkan dapat ditampilkan dengan perencanaan pembelajaran yang lebih mencerdaskan; strategi/model pembelajaran yang lebih aktif, kooperatif, dan kontekstual (ACTUAL); bahan ajar yang lebih kontekstual; dan penilaian yang lebih otentik.

Kesimpulan

Kerusakan lingkungan makin meluas dan menyentuh aspek fisik serta moral masyarakat. Oleh sebab itu,  solusi mendasar, sistemik, dan berkelanjutan diperlukan agar kerusakan tersebut dapat dicegah tidak semakin meluas dan tak terkendali. Sekolah Adi Wiyata dapat menjadi wahana strategis untuk menubuhkembangkan nilai karakter peduli lingkungan pada stake holders: siswa, guru, tenaga administrasi, orang tua, dan masyarakat sekitar sehingga sekolah dapat menjadi wahana yang nyaman dan dinamis bagi siswa untuk megembangankan good knowing, good filling, dan good acting tentang lingkungan hidup.

Salah satu tujuan pendidikan geografi mengembangkan karakter peduli lingkungan. Dengan keberadaan sekolah adi wiyata dan kurikulum 2013, implementasi pendidikan geografi di sekolah perlu direvitalisasi pada aspek perencanaan pembelajaran, strategi dan model pembelajaran, bahan ajar, dan penilaian. Perencanaan pembelajaran perlu disusun yang lebih mencerdaskan; strategi/model pembelajaran yang lebih aktif, kooperatif, dan kontekstual (ACTUAL); bahan ajar yang lebih kontekstual dan spasial; dan penilaian yang lebih otentik.

Daftar Rujukan

Anonimeus. 2013.  120 Sekolah Terima Penghargaan Adiwiyata Mandiri, (online) (
http://www.jpnn.com/read/2013/06/10/176127/120-Sekolah-Terima-Penghargaan-Adiwiyata-Mandiri) diakses 13 Juli 2013

Anonimeus. 2011. Pengertian Sekolah Adiwiyata, (online) (http://gerakanpramukaganesa.blogspot.com/2011/02/adiwiyata-adalah-program-terhadap.html) diakses 13 Juli 2013

Anonimeous, Sekolah Adi Wiyata. (online)  http://blhkotabengkulu.web.id-/index.php?option=com_content&view=article&id=185:adi&catid=34:jasa-raharja-mendukung-qmenuju-bengkulu-hijauq, diakses 13 Juli 2013

Arjana, IGB. 2010. Pendidikan Geografi dalam Strategi Antisipasi Bencana Alam di Indonesia. Prosiding. Seminar Nasional Peranan Pendidikan Geografi Dalam Pembangunan Wilayah di Surabaya 11-12 Desember 2010

Batu TV, 2012. Imlementasi program Malang Ijo Royo-royo.

Bohlin, Karen E; De-borah Farmer; Kevin Ryan. 2001. Building Character in School)

Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025).

Bashory, Khoiruddin. Menata Ulang Pendidikan Karakter Bangsa, Senin, 15 Maret 2010.

Degeng. 2005 Pengaruh Teknologi Terhadap Peningkatan Sumberdaya Manusia. Orasi Ilmiah dalam Wisuda Pancasarjana IX Teknologi Pembelajaran Universitas PGRI Adi Buana Suarabaya, 15 Januari 2005

Handoyo, B. 2012. Pendidikan Geografi Lintas Negara, (Online), (hangeo.wordpress.com, diakses 8 Juni 2012).

Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2013. Kompetensi Dasar, Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA).

Lickona. 1992. Educating for Character: How our school can teach respect & responsibility., New Yor Bantam Books.

Metro Siang, 8 Januari 2012. Menumbuhkan Kepedulian Lingkugan Hidup.

Permendiknas No 23 tahun 2006 tentang Standar Isi.

Puskur. 2009. Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah.

Reinfried, Sibylle dan Hertig Philippe. Tanpa tahun. Gegraphical Education: How Human-Environment-Society Processes Work. Encyclopedia of LifeSupport System.

Silvian. 2012. Sekolah Adiwiyata, (online) (http://albasitharizkadyahsilvian.blogspot.com/) diakses 13 Juli 2013

Sinta,Novi, Mariartini, sri Asih. Tanpa tahun. SMA Negeri 1 Kuta Selatan sebagai model sekolah Adi Wiyata. (online) (http://www.smansakutsel.sch.id/artikel/sma-negeri-1-kuta-selatan-sebagai-model-sekolah-adi-wiyata/) diakses  13 Juli 2013

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s